Jumat, 13 Juni 2014

tugas fonologi

TUGAS 1 Pengertian, Fungsi dan Arti BAHASA Menurut Para Ahli PENGERTIAN BAHASA :: Apa arti bahasa menurut ahli? Pengertian Bahasa Indonesia – Bahasa adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia di atas dunia ini, karena dengan bahasa orang bisa berinteraksi dengan sesamanya dan bahasa merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Adapun bahasa dapat digunakan apabila saling memahami atau saling mengerti erat hubungannya dengan penggunaan sumber daya bahasa yang kita miliki. Kita dapat memahami maksud dan tujuan orang lain berbahasa atau berbicara apabila kita mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan. Dibawah ini ada beberapa pengertian bahasa menurut ahli : Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli 1. Pengertian Bahasa menurut (Depdiknas, 2005: 3)Bahasa pada hakikatnya adalah ucapan pikiran dan perasan manusia secara teratur, yang mempergunakan bunyi sebagai alatnya. 2. Pengertian Bahasa menurut Harun Rasyid, Mansyur & Suratno (2009: 126) bahasa merupakan struktur dan makna yang bebas dari penggunanya, sebagai tanda yang menyimpulkan suatu tujuan. 3. Sedangkan bahasa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Hasan Alwi, 2002: 88) bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh semua orang atau anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri dalam bentuk percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun yang baik. Kesimpulan Pengertian Bahasa menurut ahli Berdasarkan beberapa pengertian bahasa tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian bahasa adalah sistem yang teratur berupa lambang-lambang bunyi yang digunakan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran bahasa tersebut. Nah dalam arti dari pengertian bahasa tersebut, hal ini menonjolkan beberapa segi sebagai berikut: 1. Bahasa adalah sistem. Maksudnya bahasa itu tunduk kepada kaidah-kaidah tertentu baik fonetik, fonemik, dan gramatik. Dengan kata lain bahasa itu tidak bebas tetapi terikat kepada kaidah-kaidah tertentu. 2. Sistem bahasa itu sukarela (arbitary). Sistem berlaku secara umum, dan bahasa merupakan peraturan yang mendasar. Sebagai contoh: ada beberapa bahasa yang memulai kalimat dengan kata benda seperti Bahasa Inggris, dan ada bahasa yang mengawali kalimatnya dengan kata kerja. Dan seseorang tidak dapat menolak aturan-aturan tersebut baik yang pertama maupun yang kedua. Jadi tidak tunduk kepada satu dialek tertentu. 3. Bahasa itu pada dasarnya adalah bunyi, dan manusia sudah menggunakan bahasa lisan sebelum bahasa lisan seperti halnya anak belajar berbicara sebelum belajar menulis. Di dunia banyak orang yang bisa berbahasa lisan, tetapi tidak dapat menuliskannya. Jadi bahasa itu pada dasarnya adalah bahasa lisan (berbicara), adapun menulis adalah bentuk bahasa kedua. Dengan kata lain bahasa itu adalah ucapan dan tulisan itu merupakan lambang bahasa. 4. Bahasa itu simbol. Bahasa itu merupakan simbol-simbol tertentu. Misalnya kata ”rumah” menggambarkan hakikat sebuah rumah. Jadi bahasa itu adalah lambang-lambang tertentu. Pendengar atau pembaca meletakkan simbol-simbol atau lambang-lambang tersebut secara proporsional. 5. Fungsi bahasa adalah mengekspresikan pikiran dan perasaan. Jadi tidak hanya mengekspresikan pikiran saja. Peranan bahasa terlihat jelas dalam mengekpresikan estetika, rasa sedih senang dalam interaksi sosial. Dalam hal ini mereka mengekspresikan perasaan dan bukan pikiran. Karena itu bahasa itu mempunyai peranan sosial, emosional disamping berperan untuk mengemukakan ide. Demikianlah kajian teoritis tentang pengertian bahasa menurut ahli, semoga artikel tersebut dapat menambah pengetahuan kita dan sebagai bahan rujukan untuk membuat makalah tentang pengertian bahasa. B) Fungsi Bahasa 1. Bahasa sebagai sarana komunikasi Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat. Fungsi tersebut digunakan dalam berbagai lingkungan, tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam, misalnya : komunikasi ilmiah, komunikasi bisnis, komunikasi kerja, dan komunikasi sosial, dan komunikasi budaya. 2. Bahasa sebagai sarana integrasi dan adaptasi Dengan bahasa orang dapat menyatakan hidup bersama dalam suatu ikatan. Misalnya : integritas kerja dalam sebuah institusi, integritas karyawan dalam sebuah departemen, integritas keluarga, integritas kerja sama dalam bidang bisnis, integritas berbangsa dan bernegara. 3. Bahasa sebagai sarana kontrol sosial Bahasa sebagai kontrol sosial berfungsi untuk mengendalikan komunikasi agar orang yang terlibat dalam komunikasi dapat saling memahami. Masing – masing mengamati ucapan, perilaku, dan simbol – simbol lain yang menunjukan arah komunikasi. Bahasa kontrol ini dapat diwujudkan dalam bentuk : aturan, anggaran dasar, undang – undang dan lain – lain. 4. Bahasa sebagai sarana memahami diri Dalam membangun karakter seseorang harus dapat memahami dan mengidentifikasi kondisi dirinya terlebih dahulu. Ia harus dapat menyebutkan potensi dirinya, kelemahan dirinya, kekuatan dirinya, bakat, kecerdasan, kemampuan intelektualnya, kemauannya, tempramennya, dan sebagainya. Pemahaman ini mencakup kemampuan fisik, emosi, inteligensi, kecerdasan, psikis, karakternya, psikososial, dan lain – lain. Dari pemahaman yang cermat atas dirinya, seseorang akan mampu membangun karakternya dan mengorbitkan-nya ke arah pengembangan potensi dan kemampuannya menciptakan suatu kreativitas baru. 5. Bahasa sebagai sarana ekspresi diri Bahasa sebagai ekspresi diri dapat dilakukan dari tingkat yang paling sederhana sampai yang paling kompleks atau tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Ekspresi sederhana, misalnya, untuk menyatakan cinta (saya akan senatiasa setia, bangga dan prihatin kepadamu), lapar (sudah saatnya kita makan siang). 6. Bahasa sebagai sarana memahami orang lain Untuk menjamin efektifitas komunikasi, seseorang perlu memahami orang lain, seperti dalam memahami dirinya. Dengan pemahaman terhadap seseorang, pemakaian bahasa dapat mengenali berbagai hal mencakup kondisi pribadinya: potensi biologis, intelektual, emosional, kecerdasan, karakter, paradigma, yang melandasi pemikirannya, tipologi dasar tempramennya (sanguines, melankolis, kholeris, flagmatis), bakatnya, kemampuan kreativitasnya, kemempuan inovasinya, motifasi pengembangan dirinya, dan lain – lain. 7. Bahasa sebagai sarana mengamati lingkungan sekitar Bahasa sebagai alat untuk mengamati masalah tersebut harus diupayakan kepastian konsep, kepastian makna, dan kepastian proses berfikir sehingga dapat mengekspresikan hasil pengamatan tersebut secara pasti. Misalnya apa yang melatar belakangi pengamatan, bagaimana pemecahan masalahnya, mengidentifikasi objek yang diamati, menjelaskan bagaimana cara (metode) mengamati, apa tujuan mengamati, bagaimana hasil pengamatan,. dan apa kesimpulan. 8. Bahasa sebagai sarana berfikir logis Kemampuan berfikir logis memungkinkan seseorang dapat berfikir logis induktif, deduktif, sebab – akibat, atau kronologis sehingga dapat menyusun konsep atau pemikiran secara jelas, utuh dan konseptual. Melalui proses berfikir logis, seseorang dapat menentukan tindakan tepat yang harus dilakukan. Proses berfikir logis merupakn hal yang abstrak. Untuk itu, diperlukan bahasa yang efektif, sistematis, dengan ketepatan makna sehingga mampu melambangkan konsep yang abstrak tersebut menjadi konkret. 9. Bahasa membangun kecerdasan Kecerdasan berbahasa terkait dengan kemampuan menggunakan sistem dan fungsi bahasa dalam mengolah kata, kalimat, paragraf, wacana argumentasi, narasi, persuasi, deskripsi, analisis atau pemaparan, dan kemampuan mengunakan ragam bahasa secara tepat sehingga menghasilkan kreativitas yang baru dalam berbagai bentuk dan fungsi kebahasaan. 10. Bahasa mengembangkan kecerdasan ganda Selain kecerdasan berbahasa, seseorang dimungkinkan memiliki beberapa kecerdasan sekaligus. Kecerdasan – kecerdasan tersebut dapat berkembang secara bersamaan. Selain memiliki kecerdasan berbahasa, orang yang tekun dan mendalami bidang studinya secara serius dimungkinkan memiliki kecerdasan yang produktif. Misalnya, seorang ahli program yang mendalami bahasa, ia dapat membuat kamus elektronik, atau membuat mesin penerjemah yang lebih akurat dibandingkan yang sudah ada. 11. Bahasa membangun karakter Kecerdasan berbahasa memungkinkan seseorang dapat mengembangkan karakternya lebih baik. Dengan kecerdasan bahasanya, seseorang dapat mengidentifikasi kemampuan diri dan potensi diri. Dalam bentuk sederhana misalnya : rasa lapar, rasa cinta. Pada tingkat yang lebih kompleks , misalnya : membuat proposal yang menyatakan dirinya akan menbuat suatu proyek, kemampuan untuk menulis suatu laporan. 12. Bahasa Mengembangkan profesi Proses pengembangan profesi diawali dengan pembelajaran dilanjutkan dengan pengembangan diri (kecerdasan) yang tidak diperoleh selama proses pembelajaran, tetapi bertumpu pada pengalaman barunya. Proses berlanjut menuju pendakian puncak karier / profesi. Puncak pendakian karier tidak akan tercapai tanpa komunikasi atau interaksi dengan mitra, pesaing dan sumber pegangan ilmunya. Untuk itu semua kaum profesional memerlukan ketajaman, kecermatan, dan keefektifan dalam berbahasa sehingga mempu menciptakan kreatifitas baru dalam profesinya. 13. Bahasa sarana menciptakan kreatifitas baru Bahasa sebagai sarana berekspresi dan komunikasi berkembang menjadi suatu pemikiran yang logis dimungkinkan untuk mengembangkan segala potensinya. Perkembangan itu sejalan dengan potensi akademik yang dikembangkannya. Melalui pendidikan yang kemudian berkembang menjadi suatu bakat intelektual. Bakat alam dan bakat intelektual ini dapat berkembang spontan menghasilkan suatu kretifitas yang baru. Kemudian saya akan menjelaskan tentang peranan bahasa sebagai alat komunikasi . Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4). Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita. Kehidupan bermasyarakat dan berbahasa Indonesia. Saya sarankan untuk berbahasa yang baik ditengah masyarakat , karena penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar dapat memenuhi aspek fungsi yang telah saya jabarkan diatas. Untuk beberapa unsur , yaitu unsur umur, pendidikan, agama, status sosial, lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan, untuk menghindari perpecahan dalam penggunaan bahasa yang tidak tepat . Dapat dikatakan bahwa berbicara kepada anak kecil dengan kepada orang dewasa tentulah berbeda, dan penggunaan bahasa dalam lingkungan tidak bisa disamakan secara merata, seperti penggunaan bahasa di lingkungan dengan berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah pendidikan tentu tidak dapat disamakan . Dan tak luput juga yaitu masalah tata bahasa, pilihan kata, tanda baca, dan ejaan. Biasanya terdapat dalam penulisan ilmiah sangat perlu perhatian . Pendapat pribadi tentang penerapan bahasa yang baik dan benar dalam perkuliahan system informasi adalah bahwa sebuah system atau sebuah informasi merupakan sebuah kumpulan kaliman yang distukan menjadi sebuah data yang penting dan benar maupun akurat yang dapat memberikan suatu efek kepada penerimanya. Penerima disini ialah manusia sebagi media yang membutuhkan informasi, oleh karena demikian dalam penulisannya informasi harus menganut system EYD atau Ejaan yang disempurnakan agar mudah di pahami oleh penerima informasi juga agar mudah untuk di dengar maupun di sebarluaskan. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia merupakan bahasa Resmi Indonesia yang memiliki kedudukan dan fungsi yang penting dalam kehidupan berbangsa, berikut adalah Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam Negara ini menurut Depdiknas dalam Pelatihan Nasional Dosen Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi adalah sebagai berikut : a. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Bahasa nasional berfungsi sebagai lambang kebanggaan nasional , lambing identitas nasional, alat pemersatu berbagai suku bangsa, dan alat perhubungan antar daerah dan antar budaya. Hal ini sangat penting karena Indonesia sendiri terdiri atas banyak budaya dan dipisahkan pula oleh kondisi geogrtafis yang terdiri atas banyak pulau. b. Bahasa Indonesia sebagai Lambang Kebanggaan Nasional Tidak semua Negara memiliki bahasa nasional yang digunakan secara luas dan dijunjung tinggi. Sebuah bahasa yang dapat menyatukan berbagai suku yang berbeda merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia sanggup mengatasi perbedaan yang ada. c. Bahasa Indonesia sebagai Lambang Identitas Nasional Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan budaya dan bahasa yang berbeda. Untuk membangun kepercayaan diri yang kuat, sebuah bangsa memerlukan identitas. Identitas tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui bahasa.Dengan adanya sebuah bahasa yang mengatasi berbagai bahasa yang berbeda, suku-suku bangsa yang berbeda tersebut dapat mengidentikan diri dalam satu bangsa melalui bahasa. d. Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu Berbagai Suku Bangsa Bangsa yang terdiri atas berbagai suku yang budaya dan bahasanya berbeda akan mengalami masalah besar dalam melangsungkan kehidupannya. Dengan adanya bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa nasional oleh semua suku bangsa yang ada, rasa persatuan pun akan muncul e. Bahasa Indonesia sebagai Alat Perhubungan Antardaerah dan Antarbudaya Komunikasi merupakan masalah besar yang dihadapi bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan budaya dan bahasa yang berbeda. Diperlukan sebuah bahasa yang dapat dipakai agar dapat berhubungan. f. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara Sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, serta alat perhubungan di tingkat nasional untuk kepentingan pembangunan dan pemerintahan, alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. g. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kenegaraan Sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia dipakai untuk urusan-urusan kenegaraan seperti pidato resmi, dokumen, dan surat-surat resmi. Upacara kenegaraan juga dilangsungkan denga bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa Indonesia dalam acara kenegaraan sesuai dengan UUD 1945 h. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pengantar dalam Dunia Pendidikan Pemakaian lebih dari satu bahasa akan menimbulkan ketidakefektifan, oleh sebab itu diperlukan satu bahasa yang dapat menjadi acuan utama dalam pelaksanaan pendidikan. i. Bahasa Indonesia sebagai Alat Perhubungan di Tingkat Nasional untuk Kepentingan Pembangunan dan Pemeritahan Bahasa dapat menjadi penghubung sehingga komunikasi dalam pembangunan serta pemerintahan tidak terhambat. Bahasa yang sama juga akan menambah keefektifan dalam komunikasi j. Bahasa Indonesia sebagai Alat Pembangunan Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Untuk mengembangkan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi diperlukan bahasa yang bisa dipakai untuk keperluan tersebut dan dimengerti oleh masyarakat luas. TUGAS 2 SEGMENTAL SUPRAMENTAL Segmental adalah fonem yang bisa dibagi. Contohnya, ketika kita mengucapkan “Bahasa”, maka nomina yang dibunyikan tersebut (baca: fonem), bisa dibagi menjadi tiga suku kata: ba-ha-sa. Atau dibagi menjadi lebih kecil lagi sehingga menjadi: b-a-h-a-s-a. Suprasegmental adalah sesuatu yang menyertai fonem tersebut yang itu bisa berupa tekanan suara (intonation), panjang-pendek (pitch), dan getaran suara yang menunjukkan emosi tertentu. Nah, kesemua yang tercakup ke dalam istilah suprasegmenal itu tidak bisa dipisahkan dari suatu fonem. TUGAS 3 PENGERTIAN LANGUE, PAROLE, LANGUAGE Langue merupakan bahasa sebagai objek sosial yang murni dan dengan demikian keberadaannya diluar indifidu, sebagai seperangkat konvensi-konvensi sistemik yang berperan penting dalam komunikasi. Langue merupakan sistem sosial yang otonom, yang tidak bergantung kepada materi-tanda-tanda pembentuknya. Sebagai sebuah institusi sosial, langue bukan sama sekali sebuah tindakan dan tidak bisa pula dirancang atau diciptakan atau diubah secara pribadi, karena pada hakikatnya langue merupakan kontrak kolektif yang sungguh-sungguh harus dipatuhi bila kita ingin berkomunikasi, singkat kata langue adalah bahasa dalam wujudnya sebagai suatu sistem. Disamping sebagai sebuah institusi sosial, langue juga sekaligus merupakan sistem nilai. Bila sebagai suatu sistem sosial, langue pada dasarnya merupakan kontrak kolektif yang harus diterima secara menyeluruh bila kita hendak berkomunikasi. Karena demikian, langue tersusun atas sejumlah elemen yang sekaligus ekuivalen dari kuantitas benda-benda dan terma-terma yang berfungsi lebih luas didalam sebuah tatanan referenssial. Dipandang dari sisi ini, sebuah tanda dapat diumpamakan seperti keping uang logam (koin) yang bernilai sejumlah barang tertentu-sehingga dengan demikian dapat dibelanjakan- tetapi juga memiliki nilai dalam kaitannya dengan koin-koin yang lain. Tugas 4 Contoh afasia Afasia Broca Sindrom perilaku yang dihasilkan dari kerusakan ke daerah Broca disebut aphasia Broca (Broca, 1865). tanda gejala adalah ketidakmampuan untuk menghasilkan berbicara ang fasih, meski pemahaman bicara relatif utuh dan utuh secara aturan vokal. Namun, aphasia Broca dapat berbeda dari satu individu ke yang berikutnya. Beberapa individu bermasalah dalam memproduksi pidato dengan lancar (sering menghilangkan kata , yaitu pronomina, konjungsi, preposisi, atau barang seperti dari, di, atau dan), tetapi masih bisa menghasilkan beberapa kalimat dipahami, meskipun lambat. Berikut adalah contoh aphasia Broca dijelaskan oleh Howard Gardner (1974). Ini adalah sebagian transkrip percakapan antara Gardner dan David Ford, seorang operator radio 39 tahun yang mengalami stroke otak kiri. Ford bisa bicara perlahan namun tiba-tiba. Kata-kata ditranskripsi di bawah itu biasanya disuarakan cukup keras dan cepat tetapi dengan celah panjang antara beberapa dari kata. Ford muncul untuk mengerahkan usaha yang cukup ketika berbicara. Gardner: "Bisakah Anda ceritakan Mr Ford, apa yang telah anda lakukan di rumah sakit? " Ford: "Ya, tentu. Aku pergi, eh, eh, PT sembilan o'cot, pidato... Dua kali... Baca... WR. . . matang, eh, Rike, eh, wite ... praktek. . . mendapatkan-ting yang lebih baik "Gardner.:" Dan apakah kau akan pulang pada akhir pekan? "Ford:" Kenapa, ya ... Kamis, eh, eh, eh, tidak, eh, Jumat ... Bar-ba-ra. . . istri. .. dan, oh, mobil. . . drive. . . purnpike. . . Anda tahu. . . istirahat dan. . . tee-vee "Gardner.:" Apakah Anda mampu memahami semua yang ada di televisi "Ford?:" Oh, ya, ya ... baik ... hampir "(. Ford menyeringai sedikit) (Gardner, 1974, hal 61.) Ford mencoba untuk memahami pertanyaan yang diajukan kepadanya, tetapi ia menunjukkan kesulitan mendalam dalam mengartikulasikan apa yang ia bermaksud untuk berkomunikasi. Dia sering dapat menghasilkan kata benda atau kata kerja yang tepat, tapi tampaknya mengalami kesulitan menemukan kata-kata. di dasarkan untuk menemukan kata yang benar (biasanya nomina dan verba) disebut sebagai anomia (yang berarti "bukan nama "). Orang dengan aphasia Broca sering menunjukkan beberapa derajat anomia, tetapi pengecualian yang paling (kata ditinggalkan) adalah kata-kata fungsi. Hasil ini dalam sambutannya yang sebagian besar terdiri atas kata benda, kata kerja, dan beberapa kata sifat. perkataan aphasics Broca kadang-kadang disebut sebagai tele grafis pidato. Dalam pengertian yang lebih umum, ketidakmampuan untuk menghasilkan gramatikal kalimat disebut sebagai agrammatism. aphasics Broca biasanya menampilkan agrammatism, tetapi jenis kesalahan biasanya kesalahan dari kelalaian. Sayangnya, agrammatism yang sering ditampilkan dalam aphasia Broca tidak terbatas pada produksi bicara. Ada beberapa bukti masalah pemahaman, tapi masalah ini tidak melibatkan memahami makna kata benda atau kata kerja. Sebaliknya, tampak seolah-olah pemahaman kata-kata fungsi (jenis kata-kata sering dikecualikan) bisa terganggu. Karena itu, ketika mereka menghadapi grammatical yang rumit kalimat yang artinya tergantung pada urutan kata dan makna kata-kata fungsi, individu dengan gangguan agrammatism. Afasia Wernicke Afasia inni diperkenalkan oleh Karl Wernicke (1848-1904) sekitar dua puluh tahun setelah deskripsi Broca tertulis dari "aphemia" adalah dalam banyak hal bertentangan dari aphasia Broca. aphasia Wernicke (kadang-kadang disebut sensori aphasia) ditandai dengan bicara yang fasih, namun makna pambicaraan sangat di ragukan. Ketika Wernicke pertama dijelaskan kondisi ini, ia membuat sejumlah klaim yang tidak konsisten dengan yang dibuat oleh Broca. Broca mengklaim bahwa ada satu bidang bahasa dan bahwa itu terletak di lobus frontal. Lain-lain, termasuk Wernicke dan Theodore Meynert (1833-1892), menyarankan bahwa kerusakan pada lobus temporal diproduksi defisit linguistik. Selain akibat kerusakan pada suatu lokus berbeda (gyrus temporal pertama daripada gyrus frontal ketiga), sindrom afasi di gambarkan oleh Wernicke (berdasarkan kasus klinis sepuluh) berbeda dari yang dijelaskan oleh Broca dalam sejumlah hal. Broca aphasia biasanya komorbid dengan hemisper kanan (kelumpuhan sisi kanan), tapi aphasia Wernicke dapat muncul tanpa defisit mo tor. Individu dengan penderita aphasia Broca kesulitan besar dalam memproduksi pidato, tetapi individu dengan aphasia Wernicke menghasilkan pidato dengan mudah. APHA Broca’s memahami pidato cukup baik, namun individu dengan aphasia Wernicke terbiasa dengan masalah parah dalam pemahaman pidato. Perhatikan contoh berikut aphasia Wernicke. Ini adalah sebagian transkrip percakapan antara Philip Gorgan (seorang tukang daging pensiunan yang telah menghabiskan perbincangan empat minggu di rumah sakit) dan Howard Gardner. Gorgan menunjukkan beberapa masalah berbicara selama beberapa hari pertama di rumah sakit, tetapi kesulitan itu mungkin karena adanya kelemahan yang lebih umum. Pada hari-hari berikutnya, mudah-Gorgan berbicara terlalu mudah, sebenarnya. Itu hampir mustahil untuk mengganggu begitu dia mulai berbicara. Gardner: "Apa yang membawamu ke rumah sakit?" Gorgan: "Wah, aku berkeringat, aku gugup sekali, kau tahu, sesekali aku tertangkap, aku tidak bisa menyebutkan tarripoi sebulan yang lalu, sangat sedikit, saya sudah banyak dilakukan baik , aku memaksakan banyak, sementara, di sisi lain, Anda tahu apa yang saya maksud, saya harus menjalankan sekitar, memeriksanya, trebbin dan semua hal-hal seperti. " Gardner: "Terima kasih, Mr Gorgan. Saya ingin bertanya beberapa-" Gorgan: "Oh, tentu, silakan, setiap tua berpikir bahwa Anda ingin Jika saya bisa saya akan. Oh, aku bicara kata dengan cara yang salah untuk mengatakan, semua tukang cukur di sini setiap kali mereka menghentikan Anda itu akan berputar-putar., jika Anda tahu apa yang saya maksud, yang mengikat dan mengikat untuk repucer, repuceration, baik, berusaha yang terbaik yang kami bisa sementara yang lain saat itu dengan tempat tidur di sana hal yang sama.... " (Gardner, 1974, hal 68) Afasia konduksi Wernicke juga berteori bahwa dua daerah bahasa akan harus terhubung (melalui fasciculus arkuata, sebuah band dari materi putih subkortikal terletak antara daerah; lihat Gambar 8.8) dan bahwa kerusakan ini akan menghasilkan struktur ketiga, gangguan bahasa unik. Dia memperkirakan bahwa kerusakan hubungan antara apa yang sekarang kita sebut Area Broca dan area Wernicke akan mengganggu aliran informasi dari pengetahuan kita tentang bagaimana peta suara ke kata-kata dan pengetahuan seseorang tentang cara membuat suara tersebut. Oleh karena itu, seorang individu dengan kerusakan tersebut tidak harus dapat mengulang kata atau frasa. Namun, karena kedua Wernicke dan daerah Broca utuh, pemahaman dan produksi akan diselamatkan. Wernicke disebut ini (prediksi) kondisi Leitungsaphasia, Jerman untuk "afasi produksi " (Wernicke, 1874). Perhatikan contoh berikut sebuah wawancara Margolin dan Walker (1983) pasien LB (Orang yang berbeda dari pasien commissurotomy LB diuraikan dalam Bab 4). Berikut ini adalah beberapa tanggapan LB ketika ia diminta mengulang kata-kata dan nonwords: Pemeriksa: "kuda nil" L.B.: "kuda nil" Pemeriksa: "blaynge" L.B.: "Aku tidak mengerti." Pemeriksa: "Oke, beberapa tidak akan kata-kata yang sebenarnya, mereka hanya akan terdengar. Blaynge." L.B.: "Aku tidak. ..." Pemeriksa: "pucat" L.B.: "pucat" Pemeriksa: "utara" L.B.: "utara" Pemeriksa: "rilld" L.B:: "Tidak, aku tidak bisa mengatakan." (Margolin & Walker, 1983) Jelas, L.B. memiliki kesulitan mengulangi nonwords tetapi tampaknya tidak mengalami kesulitan * kembali kata-kata peating nyata tunggal. Namun, ini tidak berarti bahwa L.B. yang terganggu di ¬ peating kembali kata-kata yang nyata. Pertimbangkan apa yang terjadi ketika ia dihadapkan dengan kombinasi kata: Pemeriksa: "Up dan ke bawah. " L.B.: "Up dan ke bawah. " Pemeriksa: "lihat, mobil, rumah. " L.B.: "Aku tidak mengerti. " Pemeriksa: "Simpan uang Anda. " L.B.: "Simpan uang Anda. " Pemeriksa: "kuning, besar, selatan. " L.B.: "Yellen.... Tidak bisa mengucapkannya. " Pemeriksa: "Mereka melarikan diri. " L.B.: "Mereka melarikan diri. " Pemeriksa: "lihat, menangkap, menjual." LB: "seperti.. [. Menggeleng, tertawa].... Itu masalahnya!" (Margolin & Walker, 1983) Kombinasi kata tampaknya tidak menimbulkan masalah bagi LB, asalkan kata-kata dapat dikelompokkan bersama dalam sebuah mode yang berarti. Ketika disajikan dengan kata-kata yang tidak terkait, LB adalah sangat terganggu, hasil yang juga dipamerkan oleh orang lain (McCarthy & Warrington, 1987). Efek ini merumitkan interpretasi SI ¬ sindrom tersebut. Jika itu hanya defisit pengulangan, jenis pengulangan seharusnya tidak masalah. Namun mengingat bahwa pengulangan kata-kata tunggal yang berarti atau frase berarti pendek dapat dilestarikan, ini menunjukkan bahwa memori jangka pendek komponen utama juga terlibat. Untuk lebih rumit, kerusakan cukup berbagai macam situasi anatomi dapat menimbulkan aphasia konduksi. TRANSCORTICAL-MOTOR Afasia Dalam beberapa hal, aphasias transcortical adalah kebalikan dari aphasia konduksi. Dalam semua aphasias transcortical, individu mempertahankan kemampuan mereka untuk mengulangi kata-kata dan frasa (Berthier, 1999). Transcortical-motor aphasia sering keliru diidentifikasi sebagai aphasia Broca karena pidato spontan menghentikan dan tenaga, dan pemahaman yang utuh. Tidak seperti kasus di aphasia Broca,tidak terganggu ketika orang itu diperintahkan untuk mengulangi kata atau frasa. Namun, orang sering tidak memerlukan instruksi tersebut. Orang dengan afasi transcortical-motor sering menunjukkan suatu keharusan untuk mengulangi apa orang lain hanya mengatakan, fenomena yang disebut Echolalia. Contoh: Dewasa: "Halo." Anak: "Halo." Dewasa: "Apa yang kamu lakukan?" Anak: "Apa yang kamu lakukan?" Dewasa: "Tidak, Anda pertama kali. Apa yang Anda lakukan?" Anak: "Tidak, Anda pertama kali Apa yang kamu lakukan?." Dewasa: "Hentikan semua mengulang kataku." Anak: "Hentikan semua berulang aku katakan!" Dewasa: "STOP IT!" Anak: "STOP IT!" [Cekikikan] Anak-anak (dan orang dewasa kadang-kadang) mensimulasikan Echolalia sebagai lelucon, tetapi orang-orang dengan afasi transcortical-motor itu sering menunjukkan keinginan mereka. TRANSCORTICAL-Sensory Afasia Mengingat bahwa afasi transcortical-motor serupa dengan aphasia Broca tetapi dengan hemat pengulangan, itu harus datang tidak mengejutkan Anda bahwa afasi transcortical-indra adalah sama dengan aphasia Wernicke dengan pengulangan dipertahankan. Sindrom ini melibatkan pidato fasih tetapi tidak masuk akal sama dengan paraphasias dan neologisme. pemahaman verbal adalah juga sangat dijanjikan. Namun, penamaan objek lisan kadang-kadang dikesampingkan (Berthier, 1995). Meskipun defisit, individu dengan aphasia sensorik transcortical-relatif tak terhalang pada pengulangan. Sama seperti halnya di transcortical-motor aphasia, sindrome ini biasanya meliputi Echolalia. Kondisi ini juga umumnya diamati pada tahap terakhir dari Alzheimer (Appell, Kertész, & Fisman, 1982; Murdoch, Chenery, Wilks, & Boyle, 1987). CAMPURAN TRANSCORTICAL Afasia Campuran transcortkal'aphasia tampaknya akibat dari adanya dua lesi: satu di lobus frontal bahwa banyak bagian Area Broca dan salah satu yang merusak struktur temporal (Grossi, Trojano, Chiacchio, Soricelli, Mansi, Postiglione, et al., 1991) . secara Klinis, kondisi ini jarang gejala-gejala dari kedua afasi transcortical-motor dan afasi transcortical-indra: Hal ini ditandai dengan menghentikan pembicaraan, melelahkan, dan tak berarti; pemahaman pendengaran terganggu, tetapi dipertahankan pengulangan dan Echolalia (Cappa & Vignolo, 1999). GLOBAL Afasia Yang paling parah dari aphasias, aphasia global melibatkan penurunan global dan produksi pemahaman bahasa. Pidato tidak berarti dan nonfluent (terputus-putus, sulit), pemahaman terganggu, dan pengulangan tidak terhindar (seperti aphasia transcortical campuran). Seperti halnya dengan aphasia Broca, hemipare sering menyertai defisit bahasa. Luka yang biasanya menimbulkan kondisi ini sangat luas, termasuk daerah Broca, Wernicke area, dan banyak di struktur vertikal dan subkortikal di antaranya. Lesi luas ini biasanya disebabkan oleh kerusakan pada arteri serebral tengah. Namun, luka yang menimbulkan aphasia global tidak perlu melibatkan Area Wernicke atau daerah Broca. Bahkan benar-benar subcorti lesi dapat menghasilkan gangguan (Vignolo, Boccardi, & Caverni, 1986). Anomik Afasia Anomia adalah penurunan dalam mencari kata (penurunan nilai tersebut tidak terbatas pada penamaan). Anomia terjadi di sejumlah bahasa sindrom (beberapa di antaranya sudah dibahas) dan gangguan neurologis lainnya, seperti penyakit Alzheimer (Chenery, Murdoch, & Ingram, 1996), atau mengikuti trauma kepala (Cappa & Vignolo, 1999). Namun, anomia juga dapat terjadi dalam isolasi dari gangguan lain, disebut sebagai aphasia anomik (atau anomia murni). Karena itu, seorang individu dengan afasi anomik akan menghasilkan yang berarti, berbicara lancar dengan pengulangan kata dipertahankan tapi menemukan gangguan. Tugas 5 CONTOH KASUS KEGAGAPAN Gagap adalah suatu gangguan bicara di mana tanpa disadari adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata, atau frasa; serta jeda yang mengakibatkan gagalnya produksi suara. Umumnya, gagap bukan disebabkan oleh proses fisik produksi suara atau proses penerjemahan pikiran menjadi kata. Gagap juga tak berhubungan dengan tingkat kecerdasan seseorang, orang yang gagap umumnya normal. Gangguan ini bersifat variabel, yang berarti bahwa pada situasi tertentu, seperti berbicara melalui telpon, tingkat kegagapan dapat meningkat atau menurun. Faktor genetik dan neurofisiologi diduga berperan atas timbulnya gangguan ini. Banyak teknik terapi bicara yang dapat meningkatkan kefasihan bicara pada beberapa orang. Dalam sumber lain dijelaskan bahwa gagap adalah gangguan kelancaran bicara yang terputus dalam satu rangkaiannya. Gangguan tersebut pada setiap anak berbeda bentuk kelainannya, dalam waktu tertentu berlainan jenis gangguan gagap yang timbul. Gangguan emosi atau ketegangan dengan orang tua, orang sekitar atau lingkungan dapat memicu kelainan ritme atau gagap . Pada gangguan bicara ini secara tak terkontrol sering terjadi pengulangan, pemanjangan kata/suku kata, penghentian (silent block), kadang didapatkan ketegangan yang berlebihan pada muka, tenggorokan serta rasa takut selama bicara. Kadang timbul suara nafas yang tidak biasa atau seperti memerlukan perjuangan untuk mengeluarkan kata. Biasanya penderita menghindar kata atau situasi tertentu. Anak usia 2 – 5 tahun terdapat pengulangan kata atau suku kata lebih kurang 45 kali perseribu kata yang diucapkan, bata atasnya 100 kali per 1000 kata. Bila melewati batas ini dianggap abnormal atau gagap. Terdapat beberapa teori yang menjelaskan sebagai penyebab yaitu teori stuttering Block, Cybernatic models atau Brain Function yang semuanya karena gangguan sensoris dan motoris di otak. Pengaruh gagap bicara terhadap perkembangan bahasa, gagap pada umumnya akan hilang pada usia remaja, tapi perlu ditangani sebaik mungkin agar gejala ini tidak menetap sampai usia dewasa. Dengan anak berbicara gagap akan terjadi pengulangan-pengulangan kata, kesalahan tata bahasa menjadi kebiasaan. Orang lain yang diajak bicara tidak akan bisa memahami apa yang telah mereka (anak gagap) bicarakan, karena semakin dia berbicara banyak akan semakin tidak jelas pembicaraannya. Anak yang mengalami gagap bicara dapat menimbulkan konsep diri dan perasaan rendah diri lama sebelum masa kanak-kanak berakhir. penyebabnya gagap: sering di omelin masih kecil, ditabokin masih kecil, stress, depresi, terauma tekanan batin. Penderita Gagap Gangguan gagap dalam berbicara, ada yang dalam bentuk terputus-putus, tertahan nafas atau berulang-ulang. Apabila tekanan gagap itu terlalu besar, maka kelihatan orang menekan kedua bibirnya dengan diiringi gerakan-gerakan tangan, kaki dan sebagainya. Biasanya gagap itu mulai pada umur diantara 2 dan 6 tahun. Gejala ini lebih banyak terjadi pada anak laki-laki, anak kembar dan orang kidal, dan mungkin disebabkan oleh gangguan fisik seperti kurang sempurnanya alat percakapan, gangguan pada pernapasan, amandel dan sebagainya. Akan tetapi, apabila alat-alat itu sehat maka gejala itu timbul akibat pertentangan batin, tekanan perasaan, ketidakmampuan penyesuaian diri. Gejala itu adalah sebagai salah satu akibat dari gangguan jiwa. Contoh : Seorang anak perempuan berumur 7 tahun, menderita gangguan berbicara sejak ia mulai masuk sekolah. Makin lama makin gagap ia berbicara, sedangkan sebelumnya ia berbicara lancar. Dari penelitian itu terbukti , bahwa si anak adalah anak bungsu yang sangat di manja dalam keluarga. Semua perbuatannya di biarkan, tidak pernah di tegur dan kemauannya selalu dituruti. Waktu akan masuk sekolah ia sangat gembira, tapi setelah merasakan sekolah beberapa hari ia mulai tidak mau pergi ke sekolah. Karena tidak ada guru yang memanjakannya di sekolah. Sekolah tidak seperti di rumah, ada peraturan dan tata tertib yang harus dipatuhinya, sehingga terasa olehnya bahwa sekolah itu kekangan dan siksaan baginya. Itulah sebabnya maka ia tidak mau pergi ke sekolah. Atan tetapi, orang tua dan saudara-saudaranya yang dulu selalu menuruti segala kemauannya, sekarang selalu memaksanya supaya pergi ke sekolah, bahkan kadang-kadang memukulnya. Tak lama kemudian mulailah muncul gejala tersebut, ia mulai gagap yang makin lama makin bertambah. Rupanya si anak sekaligus dihadapkan pada suasana yang berlainan dari yang biasa dihadapinya di rumah, disamping perubahan sikap orang tua dari memanjakan kepada kekerasan. Si anak tidak mampu menyesuaikan dirinya dengan suasana itu, sehingga ia merasa sangat tertekan. Untuk itulah gejala gagap itu muncul, yang menolongnya dalam menghadapai kesukaran dan pula sebagai cara untuk manarik perhatian. Tugas 6 Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar. Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orang tua. Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak. Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat mengalami kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima.[1] FONOLOGI BAHASA INDONESIA Masnur Muslich Bunyi pengiring Bunyi pengiring adalah bunyi yang ikut serta muncul ketika bunyi utama dihasilkan. Hal ini disebabkan oleh ikut sertanya alat ucap lain ketika alat ucap pembentuk bunyi utama di fungsikan. Bunyi sertaan atau pengiring ini dapat di kelomokkan menjadi sembilan macam yakni Bunyi ajektif, bunyi klik, bunyi aspirasi, bunyi eksplosif, bunyi retrofliksi, bunyi labialisasi, bunyi palatalisasi, bunyi glotalisasi dan bunyi nasalisasi. Bunyi Pengiring. Dalam menyanyikan lirik lagu “Anak Baru”, terdengar dalam beberapa kata Gita mengucapkan bunyi utamanya diiringi oleh bunyi pengiring. Bunyi pengiring itu timbul pada saat ia membunyikan bunyi utama dalam kata masuk dan sekolah, sehingga kedua kata itu terdengar menjadi mashuk dan shekolah. Bunyi pengiring [h] pada pelafalan kedua kata tersebut, termasuk kedalam kelompok bunyi aspirasi. Dimana bunyi itu dihasilkan sebagai akibat arus udara yang keluar lewat mulutnya terlalu keras. Bunyi pengiring ini terkadang terjadi secara ilmiah oleh seseorang, termasuk Gita. Sebagai akibat adanya keikutsertaan alat-alat ucap lain, ketika alat ucap pertama dibunyikan. Adapun kemungkinan lain terjadinya bunyi pengiring ini adalah Gita kesulitan membunyikan bunyi [s], sehingga ia menumpuh jalan dengan menyisipkan bunyi [h] dibelakangnya, agar bunyi [s] tersebut dapat mudah ia ucapkan. Mengingat bunyi [s] itu memang lebih sukar untuk di ucapkan disbanding dengan bunyi [mFONOLOGI : BUNYI PENGIRING BUNYI PENGIRING Bunyi pengiring adalah bunyi yang ikut serta muncul ketika bunyi utama dihasilkan.Hal ini disebabkan oleh ikut sertanya alat-alat ucap lain ketika alat ucap pembentuk bunyi utama difungsikan.Oleh karena itu,ada yang mengistilahkan koartikulasi atau artikulasi sertaan,yaitu pengucapan dua bunyi yang berurutan secara tumpang-tindih yang kualitasnya berbeda dari deretan bunyi yang diucapkan secara normal atau sempurna. Bunyi-bunyi sertaan atau pengiring ini dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1.Bunyi ejektif,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara glotis ditutup sebelum dan sewaktu bunyi utama diucapkan,sehingga ketika glotis dibuka terdengar bunyi global[V]. 2.Bunyi klik,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara lidah belakng menempel rapat pada velum sebelum dan sewaktu bunyi utama diucapkan,sehingga ketika penempelan pada velum dilepas terdengar bunyi [Kk] 3.Bunyi aspriasi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara arus udara yang keluar lewat mulut terlalu keras sehingga terdengar bunyi[Kh]. Contoh: bunyi [p] pada awal kata bahasa inggris trdengar sebagai bunyi [ph], sehingga ucapnnya menjadi [pheis]. 4.Bunyi eksplosif(bunyi lepas),yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara arus udara dilepaskan kembali setelah dihambat total.lawannya adalah bunyi implosif(bunyi tak lepas) 5.Bunyi retrofleksi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara ujung lidah ditarik ke belakang[Kr]. Contoh: bunyi [k] pada kata terdengar sebagai bunyi [kr], sehingga ucapannya menjadi [kretas]. Jadi, bunyi [k] telah diretrofleksi. 6.Bunyi labialisasi,yaitu bunyi sertaan yang di hasilkan dengan cara kedua bibir dibulatkan dan disempitkan segera/ketika bunyi utama diucapkan. Contoh: bunyi [t] pada kata terdengar sebagai bunyi [tw] sehingga lafalnya [twjuan]. Jadi, bunyi [t] dikatakan dilabialisasi. 7. Bunyi palatalisasi,yaitu sertaan yang dihasilkan dengan cara lidah tengah dinaikkan mendekati langit-langit keras(palatum) segera/ketika diucapkan sehingga terdengar bunyi[Ky]. Contoh: bunyi [p] pada kata terdengar sebagai bunyi [py] sehingga ucapannya menjadi [pyara]. Jadi, bunyi [p] telah diplatisasi. 8.Bunyi glotalisasi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara glotis ditutup sesudah bunyi utama diucapkan sehingga terdengar bunyi[?]. Contoh: bunyi [a] pada kata terdengar sebagai bunyi [a?], sehingga ucapannya menjadi [a?kan]. 9.Bunyi nasalisasi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara memberikan kesempatan arus udara melalui rongga hidung sebelum atau sesaat artikulasi bunyi utama, sehingga terdengar bunyi sertaan [m]. Contoh: Hal ini biasa terjadi pada konsonan hambat bersuara, yaitu [b], [d], dan [g], sehingga menjadi [mb] [nd] [kg].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar