Senin, 24 November 2014

tugas fonologi teliti bahasa jawa klaten(jawa tengah)

Verba dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah 1.Verba transitif Adalah verba yang melibatkan dua maujud atau etitas;manusia,binatang atau hal-hal yang dapat menjadi titik tolak untuk memerikan peristiwa itu.dalam bahasa jawa verba transitif memiliki beberapa contoh diantaranya adalah. 1.1. Mbok dikirini kembang seko heri Dalam bahasa jawa kalimat diatas memiliki arti bahwa ibu dikirim bunga dari heri.dalam kaliamat ini terdapat dua maujud yaitu manusia dan tumbuhan.dalam kamus bahasa Indonesia halaman 101 bahwa bunga adalah bagian tumbuhan yang akn menjadi buah. 1.1.2. rani angon sapi nang arepan omah Arti dari kalimat diatas adalah rani sedang mengembala sapi di depan rumah.dalam kalimat ini rumah hanya sebagai pelengkap.kata ini dapat di hilangkan sehingga terbentuklah kalimat rani sedang mengembala sapi. 1.1.3 de.e nembe moco buku Arti dari kata atau kalimat diatas adalah bahwa dia sedang membaca buku.dalam kalimat ini objek transitif tidak hadir.terkadang dalam sebuah kalimat transitif verba transitif tidak hadir.verba ini disebut dengan verba semitransitif yang verbanya mana suka. 1.1.4 bapak nembe dodos sawit nang kebun Arti dari kalimat diatas adalah bapak sedang mendodos sawit di kebun.dalam kalimat ini terdapat dua maujud anatara manusia dan tumbuhan.dalam hal ini maujud kedua di ungkapkan oleh objek.dalam kalimat diatas sawit adalah maujud kedua. 1.1.5 lek giman dikirimi tembako Arti dari kalimat diatas adalah paman giman dikiri sembako.dalam kamus bahasa Indonesia halaman 504 mengatakan bahwa tembakau adalah daun yang diracik untuk mengisi rokok.verba transitif dalam kalimat ini adalah lek giman dan tembakau,lek giman sebagai maujud pertama dan tembakau sebagai maujud ke dua. 2. Verba taktransitif Verba taktransitif yang tidak diikuti objek.namun adapula verba taktransitif yang diikuti nomina,tetapi nomina ini berfungsi sebagai pelengkap saja,seperti contoh sebagai berikut. 2.2.1 dino iki mbok e dodolan dan mbok e dodolan Arti dari bahasa jawa diatas adalah bahwa hari ini ibu jaulan.kata ini dapat di katakana taktransintif karena dalam kata ini karena dapat mengungkapkan hubungan anatara dua maujud. 2.2.2 botol kui isine banyu tuak dan botol kui enten isine Arti bahasa jawa diatas adalah botol itu berisi air tuak dan botol itu beriai.dari arti diatas dapat kita ketahui bahwa contoh diatas menjelaskan adanya dua maujud dan terdapat verba yang menyangkut atau menyerupai.dan maujud kedua tidak dapat menjadi titik tolak penerimaan peristiwa yang sama dengan bentuk verba transitif. 2.2.3 bapak ngadek (bapak berdiri ) Kalimat disamping merupakan verba tak transitif karena pada kalimat tersebut tidak terdapat objek.yang ada hanya subjek dan prediketnya. 2.2.4 adek blayu (adek lari ) Kalimat disamping merupakan verba tak transitif karena pada kalimat tersebut tidak terdapat objek.yang ada hanya subjek dan prediketnya. 2.2.5 dino de,e ikie dodolan sego kucing Kata diatas memiliki arti hari ini dia berjualan nasi kucing.dari kata diatas terdapat dua maujud.namun verba diatas memilik verba manasuka.dalam verba taktrasitif terdapat juga verba mana suka. Verba dari prilaku sematis dan sintaksis Dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah 1. Verba dari prilaku sematisnya Verba dari segi prilaku sematisnya biasanya dapat menjawab apa yang dilakukan subjeknya.didalam bahasa ada beberapa kata yang dapat digolongkan sebagai verba dari prilaku sematisnya.seperti contoh dibawah. Contoh : Sedo yang memiliki arti meninggal Contoh kalimat : sedo ne wong kui ninggali teka-teki Artinya /; meninggalnya orang itu mrninggalkan teka-teki Adus yang memiliki arti mandi Contoh kalimat : kulo adus nang kali Artinya : saya mandi di kali Tibo yang memiliki arti jatuh atau terjatuh Contoh kalimat : ade ku tibo nang pawon Artinya : ade ku jatuh di dapur Nukokno yang memiliki arti membelikan Contoh kalimat : mbok ku nukokno aku peat motor Artinya : ibu ku membelikan sepeda motor Nyedaki yang memiliki arti mendekati Contoh kalimat : cah kui nyedak I bos ne Artinya : anak itu mendekati bosnya 2. Verba dari prilaku sintaksisnya verba dari prilaku sintaksisnya dapat terbagi dari beberapa bagian diantaranya adalah verba transitif,ekatransitif,dwitransitif,dan semi transitif. 2.2.1 veba transitif verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat.sebagai contoh dalam bahasa jawa. Contoh : Mas agus angel golek kerjo Artinya : mas agus susah mencari kerja Rani tresnoambek sampean Artinya : rani kangen sama kamu Amben kui lagek diresik i amek mbok ku Artinya : amben itu dibersihkan oleh ibu ku Pak e lagek nyeneni mas se Mbok ku raseneng ambek cah kui 2.2.2 verba ekatransitif verba ekatransitif adalah verba yang diikuti oleh satu objek. Contoh : Ibu arep tumbas Lombok Artinya : ibu mau membeli cabe Mas agung golek gawean Artinya : mas agung nyari kerjaan Awak ku melok ngomongne sampean Artinya : aku ikut ngomingin kamu Moco buku nang amben Artinya: aku baca buku di amben Aku tresno keluarga kampong Artinya : aku kangen keluarga di kampung 2.2.3 verba dwitransitif Verba dwitrasitif adalah verba yang terdapat pada kalimat aktif yang dapat diikuti oleh dua nomina.misalnya dalam bahasa jawa seperti contoh dibwah ii, Contoh : De,e ncelok dulur e alan Artinya : dia memanggil saudaranya elan Jabang kui dikei jeneng sarah Artinya : bayi itu diberi nama sarah Uwong akeh nunduh wongkui maling 2.2.3 verba semitransitif verba semitransitif adalah verba yang objeknya boleh ada boelh enggak.seperti contoh bahasa jawa di bawah ini. Contoh : Ibu lage ngeresik i parang Artinya : ibu lagi membersihkan parang Pak e dodos sawit nang kebun Artinya : bapak dodos sawit di kebun Mbah ku lagek ngumbah klambi ne Artinya : nenek lagi nyuci baju Eang kakung lagek moco primbon Artinya : kakek lagi baca primbon Verba dari segi bentuknya dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah Dalam verba dari segi bentuknya ada beberapa bagian bentuk verba yaitu verba asal dan verba turunan.verba asal diataranya adalah kata ada,datang,mandi,tidur,tinggal,suka dan pergi.sedangkan verba turunan memiliki pembagiannya sendiri diantaranya afiks wajib,afiks manasuka,afiks wajib,berulang dan majemuk.dalam bahasa jawa ada beberapa contoh mengenai verba dari segi bentuknya salah satunya sebagai berikut. Contoh : Penek no blimbing kui Artinya : panjatkan pohon blimbing itu Moco no buku mu seng bener Artinya : bacalah bukumu yang bener Mbok sinauno seng rajin Artinya : belajarlah yang rajin Wong kui wes moco buku iki Artinya : orang itu sudah membaca buku ini Piet mabur re wes mudun ket mau 1.verba dasar  enten → ada kalimat : nang omah enten pak de artinya : di rumah ada pakde  Adus → mandi Kalimat : kulo adus nang kali Artinya : saya mandi di sungai  Sedo → mati Kalimat : aku pengen sedo wes ra betah ambek urip Artinya : aku pengen mati udah tidak tahan dengan kehidupan 2.verba turunan  Gede → gedekno Artinya : besar dan membesarkan Kalimat : aku arep gedek no katok ku Artinya:aku kan membesarkan celana ku  Restu → ngerustuno Artinya : restu dan merestui 3.Morfonemik 1.perfiks meng-  Meng + engko = mengko → nanti Kalimat : mengko aku nang ko Artinya : nanti saya ke sana  Meng + jajal = menjajal → mencoba 2.perfiks per-  Perdongaan → bacann doa Per + donga = perdongaan  Pergolekan → pencarian Per + golek = pergolekan 3.perfiks ter-  Ter + pokso = terpekso → terpaksa  Ter + roso = teroso → terasa  Ter + percoyo = terpercoyo → terpercaya 4.sufiks kan- Dalam bahas jawa perfiks kan mengalami perubahan menjadi no  Tarik + kan = tarikno  Letak + kan = dekek no 5. sufiks –i  Gocek i → kantongkan  Pangani → member makan 6.sufiks –an  Gendaan → pacaran  Dolanan → mainan Verba majemuk dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah 1.verba majemuk dasar Verba majemuk yang tidak berafiks yang tidak berafiks  Wani mati → berani mati  Melok campur → ikut campur  Wani sumpah → berani sumpah 2.verba majemuk berafiks Verba yang mengandung aviks tertentu.  Malang kerek → bertolak pinggang Kalimat : sammpen nopo mong malang kerek nang kono Artinya : kamu kenapa bertolak pinggang disana  Ngei roh → member tahu 3.verba majemuk berulang  Mbalek kampong → mbolak – mbalek kampong Artinya : pulang kampung → bolak- balik kampung Kalimat : kulo mbolak-mbalek kampung sak wulan kie Artinya : aku bolak-balik kampung satu bulan ini  Linggeh → linggeh-linggeh ae Artinya : duduk → duduk Morfologi dan sematik verba transitif Dalam bahasa jawa klaten 1.penurunan verba transitif 1.1 penurunan melalui transposisi nomina tak formal formal artinya gendak gendak gendakan pacaran dulang dulang dulangi nyuapin turu turu turonan tiduran 1.2 penurunan melalui afiksasi 1.2 .1 penurunan verba transitif dengan meng- Jipok(ambil) → ngejipok yang memiliki arti mengambilkan tuku(beli) → nuku yang memiliki arti membelikkan delok(lihat) → deloki yang memilikiarti melihatkan 1.2.2 penurunan verba transitif dengan –kan Dalam bahasa jawa kata kan telah mengalami perubahan menjadi ke seperti contoh Bahasa indonesia bahasa jawa bicara → membicarakan bicara → ngebicarake Bukti → ngebuktikan bukti → ngebuktike Pojok → ngemojokan pojok → ngemojoke 1.2.3 penurunan verba transitif dengan-i verba ini dapat pula berkombinasi dengan perfiks –meng  Ngempani → memberi makan Empan + i = empani  Ngiliki → melihatkan Ngilik + i = ngilik i 1.2.4 penurunan verba transitif per-dan –kan/-i Dalam bahasa jawa kata yang menggunakan per biasanya tidak menggunakan akhiran kan dan mengalami perubahan menjadi ke  Mempertimbangkan → mempertimbangke  Memperbandingkan → membandingke 2.verba tak transitif 2.1 verba taktransitif dengan afiksasi 2.1.1 dengan meng-  Rondo → merondo Artinya : janda → menjanda  Kidul → mengidul Artinya : selatan → menyelatan 2.1.2 dengan ber-  Bergocean → berpegangan  Berbojo → beristri/bersuami 2.1.3 dengan ke-an  Kebablasan → klewatan Kalimat : kulo kebablasan arep nang omah mu Artinya: saya klewatn waktu ingin kerumah kamu  Keturonan → ketiduran Kalimat : ngapuro ngiih mak,kulo keturonan mau Artinya : maaf ya mak saya ketiduran tadi  Ketiboan → kejatuhan Kalimat : kulo ketiboan durian mak Artinya : saya kejatuhan durian mak  Keentean → kehabisan Kalimat: kulo arep nuku semongko,tapi keentean Nomina dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah Nomina yang sering disebut juga kata benda.dapat dilihat dari tiga segi yakni segi simatis,sintaksis dan segi bentuk.dari segi sematis kita dapat mengatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia,binatang,benda dan konsep atau pengertian. 1.nomina dari segi prilaku sematisnya Kulo bothen uwong sugeh Artinya : saya bukan orang kaya Mejo kulo abang Artinya : meja saya merah Kuda kulo mati Artinya : kuda saya mai Adik ne sampean ilang Artinya : adiknya kamu ilang Bakul ku ilang 2.nomina dari segi sintaksisnya Nang kantor Kalimat : mas ku nang kantor gubernur saiki Artinya : abang ku di kantor gubernur sekarang Limang karung Kalimat : nang omah enten limang karung beras Artinya : di rumaha ada lima karung beras Kitab primbon Kalimat : mbah ku seneng moco kitab primbon Artinya : mbah ku suka membaca kitab primbon Nang kampung Kalimat : aku arep mangkat nang kampung ae Artinya : aku mau pulang kampung saja 3. nomina dari segi bentuknya Dari segi bentuknya nomina terbagi atas dua,yaitu nomina turunan dan nomina dasar.penurunan nomina ini dilakukan dengan(a),afiksasi,(b)perluangan,atau(c)pemajukan. 3.1 nomina dasar Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri dari satu morfem.nomina dasar terbagi atas nomina dasar umum dan nomina dasar khusus. a. Nomina dasar umum  Mejo Kalimat : mejo kui tak tuku nang jowo Artinya : meja itu saya beli di jawa  Bengi Kalimat : bengi iki aku ra melok nang kono Artinya : mala ini aku gak ikut kesana  Dino Kalimat : dino iki aku golek kerjo Artinya : hari ini aku nyari kerja  Taon Kalimat : taon iki aku arep rabi Artinya : tahun ini aku nikah  Sewindu Kalimat : wes sewindu mas ra balek Artinya : sudah seminggu abang tidak pulang b. Nomina khusus Duor yang berarti atas Munggah yang berarti naik Lek yang berarti paman dri adiknya ibu Pak de yang berarti paman dari abangnya ibu Jero yang berarti dalam Jemuah yang berarti jumat 3.2 nomina turunan Cilik memiliki turanan kecilikan Peteng memiliki turunan kepetengan Gedi memiliki turunan kegedian Warek memiliki turunan kewarekan 4.penurunan nomina dengan pel-,per-,pe,peng,peng-an,per-an dan ke-an  Per Per + kerjo = pekerjo (pekerja) Per + tondo = pertondo (pertanda)  Pe Pe + nesu = penesu (pemarah) Pe + lali = pelali (pelupa) Pe + resik = peresik (pembersih)  Pel  Peng Peng + ambek =penggambek (perajuk) Peng + ngemis = pengemes (pemimnta)  An Gawe + an = gawean(kerjaan) Omah + an = omahan(rumahan atau mainan rumah) Genda +an =gendaan(pacaran) 5.perulangan nomina  Omah – omah yang berarti rumah-rumah  Bocah – bocah yang berarti anak-anak  Dolan – dolanan yang berarti mainan  Obong – obongan yang berarti masak –masak an  Godong – godong yang berarti daun-dauna 6.pemajemukan nomina dan idiom  Nomina majemuk dasar Bahasa Indonesia bahasa jawa Kambing itam wedus ireng Doa restu pandongaan  Nomina majemuk berperfiks Bahasa Indonesia bahasa jawa Orang terpelajar uwong terpelajar Pedagang enceran dodolan asongan  Nomina majemuk setara Pak e mbok e dalam bahasa Indonesia yang berarti bapak ibu • Pak e ambek mbok e tuku sego nang warung Mase dan mbake dalam bahasa jawa berarti kakak dan abamg • Mase ambek mbak ku wes mangkat nang kampus Mbah kakung dan mbah putrid dalam bahasa jawa yang berarti kakek dan nenek • Mbah kakung ambek mbah putrid lagi nyirih nang pawon Pak de dan bude adalah paman dari ababg atau kakak orangtua • Pakde ambek bude arep dolan nang omah Bulek dan paklek adalah paman atau tante dari adik orangtua • Bulek nyeneni paklek nang omah  Nomina majemuk bertingkat Bahasa Indonesia bahasa jawa Orang terpelajar uwong terpelajar Numarelia dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah Numarelia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyak maujud(orang,binatang atau barang ) dan konsep.dalam bahasa Indonesia terdapat dua numarelia diantaranya adalah. 1. Numarelia pokok Numarelia pokok adalah bilangan dasar yang menjadi sumber dari bilangan-bilanganyang lain.numarelia pokok terbagi menjadi numarelia:pokok tentu,kolektif,distributive,pokok tak tentu,klitika,dan ukuran. a. Numarelia pokok tentu Contoh : 1 = siji 2 = loro 3 = telu 4 = papat 5 = limo Komponen belasan : 11 = sewelas 12 = rolas 13 = telulas Komponen puluhan : 10 = sepuloh 20 = rongpuloh 30 = telung puloh B. numarelia pokok kolektif Numarelia pokok kolektif dibentuk dengan prefix ke yang di tempatkan dimuka nomina. Contoh : Kedua = keloro Kelima = kelimo C .numarelia distributif dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Contoh : Satu – satu = siji – siji Dua – dua = loro – loro Lima – lima = limo –limo D . numarelia pokok tak tentu Mengacu jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numarelia tidak dapat menjadi jawaban. Contoh : Banyak cerita = akeh omong Sampea akeh omong bhoten enten seng bener Artinya : kamu nbanyak omong gak ada yang benar Banyak orang = akeh uwong Ten omah ne kulo akeh uwong ne Artinya : di rumah saya banyak orang E . numarelia pokok klitika Contoh : Lima : panca Sepuluh : dasa Tiga : catur Satu : eka F . numarelia ukuran Contoh : A . sim mbok tuku rong lusin gelas Artinya : ibu membeli dua lusin gelas B .mbak yu tuku bensin telong liter Artinya : kak yu membeli bensin tiga liter C . buku ne eneng sak dus Artinya : bukunya ada satu dus G .numarelia tingkat Numarelia pokokndapat diubah menjadi numarelia tingkatbdengan menambah ke- dimuka bilangannya yang bersangkutan. Contoh : Ketujuh = kepitu Kedelapan = kewolu Kesembilan = kesongo H . numarelia pecahan Numarelia pecahan adalah tiap bilangan pokok yang dapat dipecah menjadi bagian lebih kecil, Contoh : 1/3 = sepertelon ½ = setengah ¼ = telung prapat I . frasa numarelia Frasa numarelia umumnya dibentuk dengan manambahkan kata penggolongan. Contoh : Tiga butir : telung butir Lima biji : limang biji Empat orang : patang uwong Preposisi dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah 1. preposisi Preposisi juga disebut kata depan,menandai berbagai hubungan makna antara konstituen di depan preposisi tersebut dengan konstituen dibelakannya.preposisi berada di depan nomina.adjektifa.atau averbia sehingga terbentuk frasa preposional.preposisi terbagi atas preposisi gabungan,preposisi tunggal ,preposisi yang berupa kata berafiks dan berkolerasi. 1.1 preposisi tunggal preposisi tunggal adalah preposisi yang hanya terdiri atas satu kata. Contoh : Gor (untuk) buku iki gor mu Seko (dari) asal seko klaten Serto (serta) lemari ambek mejo serto kursi 1.2 preposisi yang kata berafiks kelompok ini dibentuk dengan menambahkan afiks pada bentuk dasar yang termasuk kelas kata verba,adjektifa atau nomina. Contoh : Ambek(bersama) pergi ambek kakak ku Sakplataran(sekitar) sakplataran omah 1.3 preposisi gabungan preposisi gabungan terdiri atas (1) dua preposisi yang berdampingan dan (2) dua preposisi yang berkolerasi. Contoh : Ketimbang (daripada ) menara kui lebih duor ketimbang pohon kui Artinya : menara itu lebih tinggi dari pada pohon itu Oleh karnane(oleh karena) de,e ra mlebu oleh karnane de,e lagek sakit Artinya : dia tidak masuk karena sakit Di bandingke (dibandingkan) dibandinke de,e aku lbih seneng karo adine Artinya : dibandingkan dia aku lebih senang kepada Adiknya 1.4 preposisi yang berkorelasi terdiri atas dua unsur yang dipakai berpasangan,tetapi terpisa oleh kata frasa lain. Contoh : de,e ambek adik e eneng bedo ne artinya : dia dan adiknya ada bedanya Seminar kui diadake dino senin ngantek rebo Artinya : seminar itu diadakan hari senin sampai rabu Seko lahir ngantek saiki mbak le melok nenek ne Artinya : dari lahir sampai sekarang dia ikut neneknya 1.5 preposisi dan nomina lokatif  dekek no gelas nang duwor mejo artinya : letakkan gelas itu di atas meja  bukune nang jero lemari artinya : bukunya didalam lemari  pisau kui dijipok no seko jero laci artinya : pisau itu diambilnya dari dalam laci Adverbia dalam bahasa jawa Dari segi prilaku sintaksis dan sematis Dalam dialeg klaten jawa tengah 1.adverbia dari segi prilaku sintaksisnya 1. adverbia yang mendahului kata yang diterangkan  andi luweh kuru seko adine artinya : andi lebih kurus dari adiknya  gunung kui duwer men artinya : gunung itu tinggi sekali  aku gor ngomong apo seng nyatane artinya : aku hanya ngomong apa yang kenyataanya 2. adverbial yang mengikuti kata yang diterangkan  ayu tenan gendakan mu artinya : cantik sekali pacar kamu  lambemu abang temen artinya : bibir mu merah sekali  aku kor numpang linggoh tok,ngenteni bus artinya : saya hanya numpang duduk saja,menunggu bus 3. adverbia yang mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan  larang men rego beras kie artinya : mahal sekali harga beras ini  wes awan aku arep mangkat nag ladang artinya : udah siang aku mau berangkat ke kebun  bapak gek endang arep adus 4. adverbial yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan  kanggonku,ndek e tok wedok seng paling ayu artinya : bagiku dia saja paling cantik  uduk aku seng nyolong,tapi aku gor lewat artinya : bukan aku yang maling,aku hanya lewat saja  aku kor nrimo tok opo seng dituduh ke artinya : aku terima saja yang dituduhkan 2. adverbial dari segi perilaku sematisnya 1. adverbial kualitatif adverbial yang menggambarkan makna dengan tingkat,derajat,atau mutu.yang termasuk adverbial ini adalah.  Aku luweh seneng masak an wong jowo Artinya : aku lebih suka masakan jawa  Mesemane paling ayu dewe Senyumnya paling cantik  Sinaune luweh angel seko biyen Belajarnya lebih sulit dari kemaren  Aku raseneng ambek klakuan mu Aku kurang senang sama tingkah mu 2. Adverbial kuantitatif Menggambarkan makna yang berhubungan dengan jumlah.yang termasuk adverbial ini antara lain,kata banyak,sedikit,kira-kira,dan cukup.dan dalam bahasa jawa ada beberapa contohnya diantarantya.  Nang buri omah akeh wit telo Di belakang rumah banyak pohon ubi  Mamak ku kor ngeliwet sego satitik Mamak ku masak nasi hanya sedikit  Gaji ne pak ku gor cukup gor manag ae Gajinya bapakku cumin cukup untuk makan saja 3. Adverbial limitative Adverbial yang menggambarkan makna dengan pembatasan.kata-kata seperti hanya,saja,dan sekadar dan dalam bahasa jawa dalam contoh berikut.  Sampean kor arep nyenengke awak ku to Kamu sekedar membahagiakan aku  Aku mong ngerti tok Aku hanya tau  Klambi mu sakmono tok Bajumu segitu saja 4. adverbia frekuantif Adverbial yang meggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbial itu.kata yang tergolong adverbial ini adalah,selalu,sering,jarang,dankadang-kadang.dan dalam bahasa jawa tidak mengalami perubahan bahasa,misalnya  aku yo sering koyo ngono aku ya sering seperti itu  mbah selalu ne yo ngono mbah selalunya ya begitu 5. adverbial kewaktuan adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan sat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbial itu.yang termaksuk adverbial kewatuan adalah baru,dan segera.dalam bahasa jawa adalah,  wes jam piro kie bok ket endang sinau ne. uadah jam brapa ini ya segeralah balajarnya  Niki aq lagek teko bu Ini saya baru datang bu 6. Adverbial kecaraan Adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagai mana peristiwa yang diterapkan oleh adverbial itu berlangsung.yang termasuk adverbial kecaraan adalah diam-diam,secepatnya,dan pelan-pelan.dalam bahasa jawa ada beberapa contoh kata yang termasuk adverbia kecaraan diataranya.  Teko omah kok meneng-meneng Datang kerumah kok diam-diam  sak cepate mpun maem secepatnya selesai makan  alon –alon ben kelakon pelan-pelan asal selamat 7. adverbial kontrastif adverbial yang menggambarkan pertentangan dengan makna kata atau hal yang dinyatakan sebelumnya.yang termasuk dalam adverbial kontrasitif adalah bahkan,malahan dan justru.dalam bahasa jawa tidak terjadi perubahan kata. 8. Adverbial keniscayaan Adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepastian yang tentang keberlangsungan atau terjadinya hal atau peristiwa yang dijelaskan adverbial itu.yang termasuk adverbial keniscayaan adalah niscaya,pasti dan tentu.dalam bahasa jawa ada beberapa contoh kata yang termasuk adverbial keniscayaan diatanya.  Rini mesti teko dino iki Artinnya : rini pasti datang malam ini Adverbial dari segi bentuknya Dalam dialeg klaten jawa tengah 1.adverbia tunggal 1.1 adverbia yang berupa kata dasa  Aku duwe klambi Anyar( baru) seko bapak ku Artinya : aku punya baju baru dari bapak ku  Ketdang( segera)nang sekolah Artinya : segera ke sekolah 1.2 adverbia yang berupa kata berafiks Dalam bahasa jawa beafiks nya mengalami perubahan menjadi ne seperti contoh  Wong kui sakjane ra bersalah Artinya : orang itu sesungnya tidak bermasalah 2.adverbia gabungan 2.1 adverbia yang berdamping  Lagi pulo rumah ne minggu depan mpun jadi Artinya :Lagi pula rumah itu akan selesai minggu depan 2.2 adverbia yang tidak berdampingan  Sampean gor ngenteki waktu ae Artinya : kamu hanya membuang waktu ku saja Adverbia konjungtif,pembuka wacana dan kelas kata lain Dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah 1.adverbia konjungtif Adverbial yang menghubungkan satu klausa atau kalimat dengan klausa atau kalimat yang lain.posisinya agak bebas.akn tetapi biasanya adverbial konjungsi digunakan pada awal kalimat.berikut adalah beberapa contoh adverbial konjungtif dalam bahasa jawa.  Aku arep mangkat nang yojo,bar kuwi aku arep mampir nang solo. aku mau berangkat ke jogja,setelsh itu aku mau mampir di solo  Sandurung ne mangkat jo lalai gulo aren ne Sebelumnya pergi jangan lupa gula arennya 2.adverbia pembuka wacana adverbia wacana biasanya terdapat pada pembuka wacana.hubunganya dengan pragraf sebelumnya didasarkan pada makna yang terkandung pada paragraf sebelumnya.ada beberapa contoh adverbial pembuka wacana dalam bahasa jawa diantaranya adalah.  Dikisahken arjuna sang pendowo limo. Alkisah arjuna lima pandawa  Mengenai hal kui iso dibicarake Mengenai hal itu bsa dibicaraka 3.adverbia kelas katalain 3.1 adverbia deverbal Adverbia deverbal dibentuk dari dasar yang berkatagori verba.dalam contoh berikut adverbial kira-kira,sekitarnya.terlalu dan tabu-tabu masing-masing diturunkan dari verba tiba,kira,lalu dan tahu.dalam bahasa jawa ada beberapa kata yang dapat di golongkan kedalam adverbial deverbal diantaranya seperti contoh dibawah.  Lalekne wae aku sakirone ra peting gor awak mu. Lupakan saja aku sekiranya tak penting untukmu  Ngapuro.kiro-kiro mengko tekan jampiro Maaf.kira-kira sampai jam brapa. 3.2 adverbia deajektival Adverbial ini diturunkan dari adjektiva,baik melalui reduplikasi maupun afiksasi.dalam bahsa jawa ada beberapa kata yang dapat dikatan adverbial deajektival diataranya seperti contoh dibawah.  Jane yo ngono Sebaiknya begitu  la mboh,wong aku meneng-meneng ae ambek de.e ya gak tau.aku diem-diem aja sama dia  mbok gatung no cita-cita mu sak duwor-duwor ne le ya gantumg cita-cita mu setinggi-tingginya ya nak(anak laki-laki) 3.3adverbia denominal Adverbial ini dibentuk dari dasar yang berkategori nomina.dalam beberapa kata dalam bahsa jawa terdapat beberapa kata yang dapat dikatakan sebagai adverbial denominal diataranya seperti contoh di bawah ini.  Jo muleh wengi-wengi,ra ilok Jangan pulang malam-malam,tidak baik  Timbakno aku nabrak kucing Rupanya aku nabrak kucing  Koyone kui seng tenanan Agaknya itu yang benar 3.4 adverbia denumeral Adverbial ini seperti halnya naomina,numerelia juga dapat membentuk adverbia.dalam beberapa kata dalam bahasa jawa dapat digolongkan sebagai adverbial numeral.diatara seperti contoh di bawah ini.  sitdik-sitdik nangis,ngadu mbek ibu. Sedikit-dikit nangis,mengadu sama ibu  jo di gowo loro-loro ne to yo. Jangan di bawa dua-duanya yaa  Meh kerjo jo setengah-setengah la wong podo ae kok tenogo ne yen metu Kalau kerja jangan setenga-tengah ya tenanganya sama aja yang keluar Artikula dan kalimat penegas dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah 1. Artikula Artikula adalah kata tugas yang membatasi makna nomina.dalam bahasa Indonesia ada beberapa kelompok artikula diataranya. 1.1 artikula yang bersifat gelar artikula yang bersifat gelar biasanyabertalian dengan orang atau hal yang dianggab mermatabat.dalam bahasa jawa ada beberapa gelar diantanya adala  hamengkubuono : hamengkubuono adalah gelar yang dipakai oleh sultan didaerah prambanan atau yang lebih dikenal dengan raja kraton. Kalimat : hamengkubono X kui seng mimipin kraton saiki Artinya : hamengkubono X itu yang memimpin kraton saat ini  Raden mas : raden mas adalah gelar yang dipakai oleh keturanan bangsawan jawa dari selir raja Kalimat : asma kulo raden mas gusti tratmojo gumelar condro winoto Artinya : nama saya radenmas gusti tratmojo gumelar condro winoto  Wali : dalam masyarakat klaten wali dapat dikatakan sebagai pemuka agama islam disuatu daerah dan dihormati. Kalimat : sholad dino iki di pimpin ambek pak wali Artinya : sholad hari ini di pimpin sama pak wali(pemuka agama islam)  Kanjeng : kanjeng adalah pemberian gelar untuk kerabat kraton dalam Contoh kalimat : jenenng ne kanjeng imas seko jowo tengah Artinya : namanya kanjeng imas asal jawa tengah 1.2 artikula yang mengacu kemakna kelompok artikula mengacu kepada makna kelompok atau makna kolektif adalah para karena artikula itu mengisaratkan ketak tunggalan.dalam bahasa jawa ada beberapa kata yang tidak menisaratkan ketunggalan,diatanya seperti contoh dibawah. Bahasa Indonesia bahasa jawa Para hadirin poro hadirin Para tetua poro sesepuh Para tamu poro tamu 1.3 artikula yang menominalkan artikula si yang dapat menominalkan dapat mengacu kemakna tunggal atau generic,bergantumg pada konteks kalimatnya.artikula si membentuk nama orang dan dalam bahasa yang formal untuk mengiringi pronominal.dalam bahasa jawa ada berberapa kalimat yang menggunakan artikula ini diataranya seperti contoh dibawah ini.  si mbok arep ngancani si dudung sekolah si mbok (panggilan ibu ) mau menemani si dudung sekolah  aduh biyung ayu neeram si halimah kui aduh mak cantik sekali si halimah itu 2. partikel penegas partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsure yang diiringinya.ada empat macam partikel penegas: -kah,-lah,-tah dan pun. 2.1 partikel –kah dalam bahasa jawa partikel ini hampir tidak ada.dalam bahasa jawa penegasa ini mengalami perubahan seperti contoh dibawa. Bahasa Indonesia bahasa jawa Bagaimanakah pripun carane Diakah panjenanganipu 2.2 partikel –lah serupa dengan partikel –kah partikel lah juga telah mengalami perubahan pada bahasa jawa.seperti beberapa contoh dibawah ini. bulan ini Bahasa Indonesia bahasa jawa Ambillah jikokno Makanlah pangano Sapulah saponi 2.3 partikel –tah dalam bahasa jawa tidak saya temukan kata atau kalimat yang menggunakan partikel ini, 2.4 partikel –pun kata penegasan dalam bahasa jawa tidak saya temukan yang menggunakan pun,namun saya menemukan kata yang berakhiran pun yaitu pripun yang berarti bagaimana. Adjektiva dari segi prilaku sematis dan sintaksisnya Dalam dialeg klaten jawa tengah 1. adjektiva dari prilaku sematinya adjekifa dari segi prilaku sematisnya terbagi atas adjektifa pemeri sifat,adjektifa warna,adjektifa jarak,adjektifa silap bathin dan adjektifa cerapan. 1.1 adjektiva pemberi sifat  anyep yang memiliki arti dingin kalimat : ayep banyu kie rasane ngatek tulang artinya : air dingin itu rasanya sampai tulang  resik yang memiliki arti bersih kalimat : resik temen omah mu artinya : bersih sekali rumah mu  cendek yang memiliki arti dangkal kalimat : cedek banyu nang sungai artinya : air disungai itu dangkal  sumuk yang memiliki arti panas kalimat : sumuk eram dino kie artinya : panas sekali hari ini  membel yang memiliki arti kebal kalimat : pisau kui wes membel ambek dee artinya : pisau itu sudah kebal untuknya 1.2 adjektifa ukuran  gedi yang memiliki arti besar kalimatnya : gedi temen klambimu artinya : besar sekali bajumu  abot yang memiliki arti berat kalimat : abot temen watu kie artinya : berat sekali batu ini  endek yang memiliki arti pendek kalimat : endekmen koe saiki artinya : pendek sekali kamu sekarang  duor yang memilki aerti tinggi kalimat : duor men antenna kui artinya : tinggi sekali atena itu  dowo yang memiliki arti panjang 1.3 adjektiva warna  abang aritnya merah dalam bahasa jawa abang bearti merah kalimat : abang men lipstikmu artinya : merah sekali bibir mu  ireng artinya itam kalimat : klambi ireng kui manis yo artinya : baju hitam itu manis 1.4 adjektiva jarak  atoh artinya jauh kalimat : atoh men omah mu seko sekolah artinya : jauh sekali rumah mu dari rumah  cedek artinya deket kalimat : omah ku cedek seko langgar artinya : rumah deket dari mesjid 1.5 adjektiva sikap batin  tresno dalam bahasa Indonesia adalah rindu contoh kalimat : aku tresno sampean mz artinya : aku kangen kamu mas  wedi dalam bahasa Indonesia adalah takut contoh kalimat : aku wedin arep nakon artinya : aku takut mau nanyak  mumet dalam bahasa Indonesia memiliki arti pusing contoh kalimat : mumet endas ku delaok tingkah mu artinya : pusing kepalaku melihat tingkah mu  loro dalam bahasa Indonesia memiliki arti sakit contoh kalimat : loro ati duwe gendaan koyo pean artinya : sakit hati punya pacar sepeti kamu  alus dalam bahasa Indonesia memiliki arti lembut 1.6 adjektiva cerapan adjektifa cerapan bertalian dengan panca indra yakni penglihatan,pendengaran dan penciuman atau penghidupan.seperti contoh dalam beberapa bahasa jawa yang ada dibawah ini.  Penglihatan : padang (terang),peteng (gelap) dan suram  Pendengaram : anteng (senyap),merdu,ribut(bising) dan gaduh(berisik)  Penciuman : mambu(bauk),wangi(harum)dan sangik(tengik)  Perabaan : teles(lembut),halus(lembut),dan garing(kering)  Pencitrasaan : sedep(sedap),penak(enak) 1.7 adjektifa waktu  sui yang memiliki arti lama kalimat : sui ne ram sampean nang kono artinya : lama sekali kamu disana  ketndang yang artinya segera kalimat: ketdang lho nang kebun artinya : segeralah ke kebun  Cepet yang artinya cepat Kalimat : cepet no mlaku mu Artinya : cepet jalan mu 2.adjektiva bertaraf adjektifa yang menempatkan nomina yang diwatasinya didalam klompok atau golongan tertentu.  Klambi kie tinggal Setunggal (tunggal) tok. Artinya : baju ini tinggal tunggal saja  Ban peat mu Bunder (bulat) Artinya : ban sepedamu bulat  Enem kui Genep (genap) Artinya : enam itu genap 2.adjektiva dari segi sitaksisnya 2.1 fungsi artibutif Adjektiva yang merupakan pewatas dalam frasa nominal yang nominanya menjadi subjek,objek atau pelengkap.  Buku abang yang memili arti buku merah  Cah cilek yang memiliki arti anak kecil  Klambi putih yang memiliki arti baju putih 2.2 fungsi predikatif Adjektiva yang menjalankan pelengkap dalam klausa  Buku seng mbok tuku ora larang Artinya : buku yang kamu beli kemarin itu tidak mahal  Sedihno hatine delok koyo kui Artinya : sedihlah hatinya lihat hal seperti itu  Hatine ra tenang sakdurung bojone teko Artinya : hatinya tidak tenang sebelum suaminya datang 2.5 fungsi adverbial atau keterangan  gawe seng bener artinya : kerja dengan baik  ngomong seng bener artinya : ngomong yang baik  Kerjo seng ulet artinya: kerja yang sepenuhnya 3.pertarafan adjektifa Adjektifa ini dapat menunjukkan berbagai tingkah kualitas atau intesitas dan berbagai tingkat bandingan.adjektifa ini memiliki berbagai jenis diantaranya. 3.1 tingkat kualitasnya Adjektifa menunjukan tingkat intesitasnya yang lebih tinggi atau rendah. 3.1.1 tingkat positif Memberikan kualitas atau intesitas maujud yang diterangkan,dinyatakan oleh adjektifa tanpa pewatas.  Pak dirman sugeh duite Artinya : pak dirman kaya duitnya  Toko bakso kui jek anyar,tapi wes rame pelanggane Artiny : toko bakso itu masih baru,tapi pelangganya sudah ramai  Kelas dino ikie tenang Artinya : kalas hari ini tenang 3.1.2 tingkat intensif Menekankankadar kualitas atau intensitas , dinyatakam dengan memakai perawatas benar,betul atau sungguh.  Asep setia temen ambek gendakan ne Artinya: asep setia benar sama pacarnya  Gadis kui pancen ayu Artinya: gadis itu sungguh cantik  Pancen sungeh koe sakiki Artinya : sungguh kaya kamu sekarang 3.1.3 tingkat elatif Tingkat elatif yang menggambarkantingkat kualitas atau intesitas yang tinggi,dinyatakan dengan memakai amat,sanga,atau sekali.  Koe kok goblok ke eram Artinya : kamu sangat bodoh  Gayamu angko pas telok wong kui Artinya : gayamu angkuh ketika melihat mereka 3.1.4 tingkat eksetif Mengacu ke kadar kualitas atau intesitas yang berlebih,atau yang meliputi batas kewajaran.  Peat motor kui larang temen Artinya : sepeda motor itu mahal sekali  Soal ujian kui angel ra ram Artinya : soal ujian itu terlalu sukar  Uwong seng nembung wes keakehan Artinya : orang yang melamar sudah klewat banyak Adjektiva dari segi bentuk dari segi bentuknya Dalam dialeg bahasa jawa klaten 1.adjektiva dasar (monomorfemis) Sebagian besar adjektifa dasar merupakan bentuk yang monofermis meskipun ada yang bentuk perulangan semu.  Tenan (benar)  Abang (merah)  Loro (sakit)  Bunder (bundar) 2.adjektiva turunan(polimorfemis) Hasil pengafiksan dari tingkat ekuatif dengan perfiks –se dan hasilpenafiksan dengan infiks atau sisipan –em pada nomina. 2.1 adjektiva bersufiks –I,-iah,atau wie,-wiah  kebun niki harus digarap ambek wong pribumi artinya : kebun ini harus digarap oleh orang pribumi  wong jowo kui harus jaweni artinya : orang jawa itu harus jaweni (sikap orang jawa )  jo pikir duniawi ae artinya : jangan piker duniawi saja 2.2 adjektiva bersufiks –if,-er,-al,-is  no hp ku ra aktif artinya : no hp saya tidak aktif  sampean kie wes ra normal artinya : kamu ini sudah tidak normal  sampean kie kelewat agresif artinya : kamu ini terlalu agresif 2.3 adjekiva bentuk berulang  semongko kui cilik-cilik artinya : semangka itu kecil-kecil  hajatan kui diadake gedi-gedian artinya : hajatan itu diadakan besar-besaran  ruput nang arep omah wes dowo-dowo artinya : rumput didepan rumah sudah panjang-panjang 2.4 adjektiva gabungan sinonim atau antonym sinonim  mangan,dahar yang artinya : makan  koe,sampean yang artinya : kamu  de”e ,tiange yang artinya : dia antonim  elek,ayu artinya: jelek dan cantik  sugeh,kere artinya : kaya dan miskin  dereng,mpun artinya : belum dan sudah 2.5 adjektiva morfem terikat danbebas  buto artinya buta  gusti agung artinya mahakuasa 2.6 adjektiva morfem bebas  bungah artinya baik budi  gagal bles artinya gagal total  podo rupo artinya pada rupa adjektiva dan kelas kata lain dalam bahasa jawa dialeg bahasa klaten jawa tengah 1. adjektiva deverbal  wedeni yang memiliki arti menakutkan  ngembang yang memiliki arti berkembang  ngemaluke yang memiliki arti memalukan 2. adjektiva denominal 2.1 adjektifa bentuk pe(r)-atau peng  penesu yang memiliki arti pemarah  pesolek yang memiliki arti pedandan  peambek yang memiliki arti perajuk 3. adjektiva bentuk ke-an dengan reduplikasi  Nomina nomina adjektiva Abot → keaboten → keabot – abota Konjongtor dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah 1.konjungtor subordinatif Konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih dan klausa tidak memiliki status sintaksis yang sama. 1.1 konjungtor subordinatif waktu  sementoro artinya sementara  ngantek artinya sampai  rampung artinya selesai 1.2 konjungtor subordinatif syarat  asalke → asal(kan)  angger → jika 1.3 konjungtor pengandaian  seandaine → seandainya  umpamane → umpamanya  sekirane → sekiranya 1.4 konjungtor subordinatif tujuan  men→ supaya,agar dan biar dalam bahasa jawa ada bahasa yang memiliki arti sama dari berbagai kata 1.5 konjungtor subordinatif konsesif  walaukne → walaupun 1.6 konjungtor subrodinatif pembandingan  koyo → seperti  ibarate → ibarat 1.7 konjungtor subrodinatif sebab  karnake → sebab 1.8 subrodinatif hasil  ngantek →sampai 1.9 konjungtor subradinatif alat  kanggu→dengan 1.10 konjungtor subordinatif cara  dengan,tanpa 1.11 konjungtor subordinatif komplementasi  bahwa 1.12 konjungtor subordinatif artibutif  seng yang memiliki arti yang contoh kalimat : cah kui seng ngomong artinya : anak itu yang ngomong 1.13 konjungtor subordinatif pebandingan  lebeh yang memiliki arti lebih  Ketimbang yang memliki arti daripada 2.konjungtor antar kalimat a) Wong kui blonjo nang wates.wong kui lungo nang omah dulurne nang ancol b) Wong kui blonjo nang wates.barkui,wong kui lungo nang omah dulurne nang ancol Artinya : a) Mereka belanja di wates.mereka pergi kerumah saudaranya di ancol b) Mereka belanja di wates,setelah itu,mereka ke rumah saudaranya di ancol 3.konjungtor kordinatif  Sedangke penanda hubungan pertentangan  Padahal penanda hubungan pertentangan Daftar pustaka Kamus bahasa jawa. 2004. “kromo inggil ngoko jowo”artikel anak jawa”. (Online), (diakseskan 10 november 2014). ---------.1996. primbon jawi dasar aturan jawi. sleman: Balai Pustaka. Alwi, Hasan, dkk. 2003.Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Chaer, Abdul.2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta. Black bery messenger grop.

tugas fonologi teliti bahasa jawa klaten (jawa tengah)

Sufik,infik,prefik dan konfiks dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah Buatlah sufiks berakhiran an dalam bahasa daerah masing-masing Dalam bahasa jawa 1. Pangan menjadi panganan Dalam kata pangan menjadi panganan terjadi perubahan makna dari kata verba menjadi kata benda.panganan adalah sebutan untuk berbagai jenis makanan.dalam bahsa jawa pangan adalah kata perintah yang memerintahkan orang untuk makan. 2 , Penek menjadi penekan Dalam bahsa jawa penek memiliki arti panjat sedangkan penekaan adalan memanjat dalam kamus besar bahasa Indonesia halaman 1015 menyatakan bahwa antara panjat dan memanjat memiliki pengertian yang berbeda,panjat berarti naik sedangkan memanjat berarti membiarkan memanjat. Buatlah perfiks 1.awalan men Perubahan awalan men menjadi me jika kata dasar yang mewakili bunyi/c/d/j/.dalam bahasa jawa ada beberapa bahasa yang dapat digunakan sebagai contoh diantaranya. Men + jajal = menjajal Dalam kbbi halaman 557 jajal berarti coba dan jika ditambah men menjadi mencoba Men + jalok = menjalok Dalam bahasa jawa jalok arti minta dan jika di tambah men menjadi meminta.pada kalimat ini tidak terjadi perubahan makna, 2, Awalan meng Dalam bahasa jawa terdapat kata yang berawalan meng yang berunyi mengeneg yang berarti kesini, Kata ini memiliki kata dasar ngeneh yang berarti disini. Meng + ngeneh = kesini Kalimat : riko mengeneh disek Meng + umbah = ngumbah yang memiliki arti mencuci atau membersihkan Dalam arti kata ini memiliki kata dasar umbahan yang berarti cucian Kalimat : mbok ku seng ngumbah bak kui Mencari perfiks –per dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah .perfik –per Perfik adalah bentuk morfen yang dipakai untuk menurunkan kata atau afiks yang ditepatkan di bagian muka kata dasar dan dibawah ini beberapa cotoh bahasa jawa yang menggunakan perfiks per. Contoh: Donga menjadi perdongaan apabiala menambahkan perfiks –per -per + donga Dalam bahasa jawa donga adalah doa dan jika ditambah perfiks per menjadi perdonga yang mengubah arti menjadi bacaan doa Perfiks –pen dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah Perfik –pen Dalam bahasa jawa ada beberapa kata yang menggunakan awalan(perfiks) –pen diataranya adalah seprti contoh kata di bawah ini. Contoh : Nyuon dalam bahasa jawa kata ini memiliki arti minta dan jika di tambah perfik –pen menjadi penyuonan.dalam kata ini mengalami mengalami perubahan arti permintaan. -pen + nyuon dan menjadi penyuonan Perfik -ter dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tengah Perfiks –ter Dalam bahasa jawa ada beberapa kata yang menggunakan perfiks –per diataranya memiliki arti yang sama dengan bahasa Indonesia.seperti beberapa contoh di bawan ini. Contoh :  Kata dasar pekso atau paksa yang memiliki tambahan ter -ter + pekso Terpekso memili arti terpaksa yaitu rasa ketidak ikhlasan saat melakukan kegiatan atau perkerjaan.  Kata dasar anioyo atau aniaya yang memiliki arti zolimi atau tertindas dan sebagai nomina dan dalam kamus besar bahasa Indonesia aniaya memiliki makna perbuatan bengis jika menambah awar ter menjadi teranioyo atau teaniaya -ter + anioyo menjadi teranioyo Perfik –di dalam bahasa jawa Dialeg klaten jawa tenggah Perfik –di dalam bahasa jawa Di seneni Dalam bahasa jawa diseneni memiliki arti dimarahi dan memiliki kata dasar seneni yang memili arti marah.dalam kamus bahasa Indonesia halaman 317 dimarahi memiliki arti ditrgur atau diomeli dan marah adalah a mk. -di + seneni menjadi diseneni Dituroni Dalam bahasa jawa dituroni memiliki arti ditidurkan atau ditiduri dan memiliki kata dasar tidur yaitu turu.dalam kamus bahasa Indonesia halaman 531 tidur berati berbaring tidak berdiri sedangkan ditiduri adalah menyetubuhi dengan dan ditidurkan adalah membawa tidur supaya tidur. -di + turu menjadi dituroni Contoh kata Cah kui dituroni bojone Perfiks ber Saya tidak menemukan perfiks ber dalam bahasa jawa Mencari Sufiks (akhiran ) dalam bahsa jawa Dialek klaten jawa tengah surfik adalah morfen yang terkait yang digunakan dibagian belakang kata.sufiks bsa disebut dengan akhiran.pembagian sufik adalah. 1. Sufiks-kan Dalam bahasa jawa sufiks-kan mengalami perubahan menjadi –no.ada beberapa contoh sufiks yang menggunakan sufiks-kan. Contoh : Bahasa Indonesia bahasa jawa Kecil+kan menjadi kecilkan dalam bahasa jawa berganti menjadi cilikno Cari+kan menjadi carikan dalam bahasa jawa berganti menjadi golekno Dengar+kan menjadi dengarkan dalam bahasa jawa berganti menjadi rungokno Ingat+kan menjadi ingatkan dalam bahasa jawa berganti menjadi elingno Lihat+kan menjadi lihatkan dalam bahasa jawa berganti menjadi ilikno 2. Sufiks-i Dalam bahasa jawa sufiks i tidak mengalami perubahan.seperti beberapa contoh berikut. Contoh : Bahasa Indonesia bahasa jawa Teman + -i menjadi temani dalam bahasa jawa berganti menjadi kancani Telanjang + -i menjadi telanjangi dalam bahasa jawa menjadi udani Takut + -i menjadi takuti dalam bahasa jawa menjadi wedeni Datang + -i menjadi datangi dalam bahasa jawa menjadi parani Marah + -i menjadi marahi dalam bahasa jawa menjadi seneni 3.sufiks-an Dalam dialeg bahas jawa tidak mengalami perubahan dan inilah beberapa conton sufiks-an. Contoh : Bahasa Indonesia dalam bahasa jawa Kerja + -an menjadi kerjaan dalam bahasa jawa menjadi gawean Main + - an menjadi mainan dalam bahasa jawa menjadi dolanan Pegang + -an menjadi pegangan dalam bahasa jawa menjadi gocekan Sendiri + -an menjadi sendirian dalam bahasa jawa menjadi dewekan Pacar + -an menjadi pacaran dalam bahasa jawa menjadi gendakan 4.sufiks –nya Dalam bahasa jawa sufiks-nya berganti menjadi –ne.dalam bahasa jawa akhiran nya tidak ditemukan karena mengalami perubahan menjani -ne.dibawah ini adalah beberapa contoh kata yang menggunaka akhiran -ne yang berubah dari –nya. Contoh : Bahasa Indonesia bahasa jawa Kata + -nya menjadi katanya menjadi jarene Biasa + -nya menjadi biasanya menjadi biasane Nyata + -nya menjadi nyatanya menjadi nyatane Bukti + -nya menjadi buktinya menjadi buktine Sebenar + -nya menjadi sebenarnya menjadi sakjane Sumber 1.buku tata bahasa baku 2. beberapa nara sumber dari kalangan jawa 3. kamus bahasa Indonesia 4. laman grub bbm anak klaten indonesia

Jumat, 13 Juni 2014

TUGAS 4

TUGAS 4 Contoh afasia Afasia Broca Sindrom perilaku yang dihasilkan dari kerusakan ke daerah Broca disebut aphasia Broca (Broca, 1865). tanda gejala adalah ketidakmampuan untuk menghasilkan berbicara ang fasih, meski pemahaman bicara relatif utuh dan utuh secara aturan vokal. Namun, aphasia Broca dapat berbeda dari satu individu ke yang berikutnya. Beberapa individu bermasalah dalam memproduksi pidato dengan lancar (sering menghilangkan kata , yaitu pronomina, konjungsi, preposisi, atau barang seperti dari, di, atau dan), tetapi masih bisa menghasilkan beberapa kalimat dipahami, meskipun lambat. Berikut adalah contoh aphasia Broca dijelaskan oleh Howard Gardner (1974). Ini adalah sebagian transkrip percakapan antara Gardner dan David Ford, seorang operator radio 39 tahun yang mengalami stroke otak kiri. Ford bisa bicara perlahan namun tiba-tiba. Kata-kata ditranskripsi di bawah itu biasanya disuarakan cukup keras dan cepat tetapi dengan celah panjang antara beberapa dari kata. Ford muncul untuk mengerahkan usaha yang cukup ketika berbicara. Gardner: "Bisakah Anda ceritakan Mr Ford, apa yang telah anda lakukan di rumah sakit? " Ford: "Ya, tentu. Aku pergi, eh, eh, PT sembilan o'cot, pidato... Dua kali... Baca... WR. . . matang, eh, Rike, eh, wite ... praktek. . . mendapatkan-ting yang lebih baik "Gardner.:" Dan apakah kau akan pulang pada akhir pekan? "Ford:" Kenapa, ya ... Kamis, eh, eh, eh, tidak, eh, Jumat ... Bar-ba-ra. . . istri. .. dan, oh, mobil. . . drive. . . purnpike. . . Anda tahu. . . istirahat dan. . . tee-vee "Gardner.:" Apakah Anda mampu memahami semua yang ada di televisi "Ford?:" Oh, ya, ya ... baik ... hampir "(. Ford menyeringai sedikit) (Gardner, 1974, hal 61.) Ford mencoba untuk memahami pertanyaan yang diajukan kepadanya, tetapi ia menunjukkan kesulitan mendalam dalam mengartikulasikan apa yang ia bermaksud untuk berkomunikasi. Dia sering dapat menghasilkan kata benda atau kata kerja yang tepat, tapi tampaknya mengalami kesulitan menemukan kata-kata. di dasarkan untuk menemukan kata yang benar (biasanya nomina dan verba) disebut sebagai anomia (yang berarti "bukan nama "). Orang dengan aphasia Broca sering menunjukkan beberapa derajat anomia, tetapi pengecualian yang paling (kata ditinggalkan) adalah kata-kata fungsi. Hasil ini dalam sambutannya yang sebagian besar terdiri atas kata benda, kata kerja, dan beberapa kata sifat. perkataan aphasics Broca kadang-kadang disebut sebagai tele grafis pidato. Dalam pengertian yang lebih umum, ketidakmampuan untuk menghasilkan gramatikal kalimat disebut sebagai agrammatism. aphasics Broca biasanya menampilkan agrammatism, tetapi jenis kesalahan biasanya kesalahan dari kelalaian. Sayangnya, agrammatism yang sering ditampilkan dalam aphasia Broca tidak terbatas pada produksi bicara. Ada beberapa bukti masalah pemahaman, tapi masalah ini tidak melibatkan memahami makna kata benda atau kata kerja. Sebaliknya, tampak seolah-olah pemahaman kata-kata fungsi (jenis kata-kata sering dikecualikan) bisa terganggu. Karena itu, ketika mereka menghadapi grammatical yang rumit kalimat yang artinya tergantung pada urutan kata dan makna kata-kata fungsi, individu dengan gangguan agrammatism. Afasia Wernicke Afasia inni diperkenalkan oleh Karl Wernicke (1848-1904) sekitar dua puluh tahun setelah deskripsi Broca tertulis dari "aphemia" adalah dalam banyak hal bertentangan dari aphasia Broca. aphasia Wernicke (kadang-kadang disebut sensori aphasia) ditandai dengan bicara yang fasih, namun makna pambicaraan sangat di ragukan. Ketika Wernicke pertama dijelaskan kondisi ini, ia membuat sejumlah klaim yang tidak konsisten dengan yang dibuat oleh Broca. Broca mengklaim bahwa ada satu bidang bahasa dan bahwa itu terletak di lobus frontal. Lain-lain, termasuk Wernicke dan Theodore Meynert (1833-1892), menyarankan bahwa kerusakan pada lobus temporal diproduksi defisit linguistik. Selain akibat kerusakan pada suatu lokus berbeda (gyrus temporal pertama daripada gyrus frontal ketiga), sindrom afasi di gambarkan oleh Wernicke (berdasarkan kasus klinis sepuluh) berbeda dari yang dijelaskan oleh Broca dalam sejumlah hal. Broca aphasia biasanya komorbid dengan hemisper kanan (kelumpuhan sisi kanan), tapi aphasia Wernicke dapat muncul tanpa defisit mo tor. Individu dengan penderita aphasia Broca kesulitan besar dalam memproduksi pidato, tetapi individu dengan aphasia Wernicke menghasilkan pidato dengan mudah. APHA Broca’s memahami pidato cukup baik, namun individu dengan aphasia Wernicke terbiasa dengan masalah parah dalam pemahaman pidato. Perhatikan contoh berikut aphasia Wernicke. Ini adalah sebagian transkrip percakapan antara Philip Gorgan (seorang tukang daging pensiunan yang telah menghabiskan perbincangan empat minggu di rumah sakit) dan Howard Gardner. Gorgan menunjukkan beberapa masalah berbicara selama beberapa hari pertama di rumah sakit, tetapi kesulitan itu mungkin karena adanya kelemahan yang lebih umum. Pada hari-hari berikutnya, mudah-Gorgan berbicara terlalu mudah, sebenarnya. Itu hampir mustahil untuk mengganggu begitu dia mulai berbicara. Gardner: "Apa yang membawamu ke rumah sakit?" Gorgan: "Wah, aku berkeringat, aku gugup sekali, kau tahu, sesekali aku tertangkap, aku tidak bisa menyebutkan tarripoi sebulan yang lalu, sangat sedikit, saya sudah banyak dilakukan baik , aku memaksakan banyak, sementara, di sisi lain, Anda tahu apa yang saya maksud, saya harus menjalankan sekitar, memeriksanya, trebbin dan semua hal-hal seperti. " Gardner: "Terima kasih, Mr Gorgan. Saya ingin bertanya beberapa-" Gorgan: "Oh, tentu, silakan, setiap tua berpikir bahwa Anda ingin Jika saya bisa saya akan. Oh, aku bicara kata dengan cara yang salah untuk mengatakan, semua tukang cukur di sini setiap kali mereka menghentikan Anda itu akan berputar-putar., jika Anda tahu apa yang saya maksud, yang mengikat dan mengikat untuk repucer, repuceration, baik, berusaha yang terbaik yang kami bisa sementara yang lain saat itu dengan tempat tidur di sana hal yang sama.... " (Gardner, 1974, hal 68) Afasia konduksi Wernicke juga berteori bahwa dua daerah bahasa akan harus terhubung (melalui fasciculus arkuata, sebuah band dari materi putih subkortikal terletak antara daerah; lihat Gambar 8.8) dan bahwa kerusakan ini akan menghasilkan struktur ketiga, gangguan bahasa unik. Dia memperkirakan bahwa kerusakan hubungan antara apa yang sekarang kita sebut Area Broca dan area Wernicke akan mengganggu aliran informasi dari pengetahuan kita tentang bagaimana peta suara ke kata-kata dan pengetahuan seseorang tentang cara membuat suara tersebut. Oleh karena itu, seorang individu dengan kerusakan tersebut tidak harus dapat mengulang kata atau frasa. Namun, karena kedua Wernicke dan daerah Broca utuh, pemahaman dan produksi akan diselamatkan. Wernicke disebut ini (prediksi) kondisi Leitungsaphasia, Jerman untuk "afasi produksi " (Wernicke, 1874). Perhatikan contoh berikut sebuah wawancara Margolin dan Walker (1983) pasien LB (Orang yang berbeda dari pasien commissurotomy LB diuraikan dalam Bab 4). Berikut ini adalah beberapa tanggapan LB ketika ia diminta mengulang kata-kata dan nonwords: Pemeriksa: "kuda nil" L.B.: "kuda nil" Pemeriksa: "blaynge" L.B.: "Aku tidak mengerti." Pemeriksa: "Oke, beberapa tidak akan kata-kata yang sebenarnya, mereka hanya akan terdengar. Blaynge." L.B.: "Aku tidak. ..." Pemeriksa: "pucat" L.B.: "pucat" Pemeriksa: "utara" L.B.: "utara" Pemeriksa: "rilld" L.B:: "Tidak, aku tidak bisa mengatakan." (Margolin & Walker, 1983) Jelas, L.B. memiliki kesulitan mengulangi nonwords tetapi tampaknya tidak mengalami kesulitan * kembali kata-kata peating nyata tunggal. Namun, ini tidak berarti bahwa L.B. yang terganggu di ¬ peating kembali kata-kata yang nyata. Pertimbangkan apa yang terjadi ketika ia dihadapkan dengan kombinasi kata: Pemeriksa: "Up dan ke bawah. " L.B.: "Up dan ke bawah. " Pemeriksa: "lihat, mobil, rumah. " L.B.: "Aku tidak mengerti. " Pemeriksa: "Simpan uang Anda. " L.B.: "Simpan uang Anda. " Pemeriksa: "kuning, besar, selatan. " L.B.: "Yellen.... Tidak bisa mengucapkannya. " Pemeriksa: "Mereka melarikan diri. " L.B.: "Mereka melarikan diri. " Pemeriksa: "lihat, menangkap, menjual." LB: "seperti.. [. Menggeleng, tertawa].... Itu masalahnya!" (Margolin & Walker, 1983) Kombinasi kata tampaknya tidak menimbulkan masalah bagi LB, asalkan kata-kata dapat dikelompokkan bersama dalam sebuah mode yang berarti. Ketika disajikan dengan kata-kata yang tidak terkait, LB adalah sangat terganggu, hasil yang juga dipamerkan oleh orang lain (McCarthy & Warrington, 1987). Efek ini merumitkan interpretasi SI ¬ sindrom tersebut. Jika itu hanya defisit pengulangan, jenis pengulangan seharusnya tidak masalah. Namun mengingat bahwa pengulangan kata-kata tunggal yang berarti atau frase berarti pendek dapat dilestarikan, ini menunjukkan bahwa memori jangka pendek komponen utama juga terlibat. Untuk lebih rumit, kerusakan cukup berbagai macam situasi anatomi dapat menimbulkan aphasia konduksi. TRANSCORTICAL-MOTOR Afasia Dalam beberapa hal, aphasias transcortical adalah kebalikan dari aphasia konduksi. Dalam semua aphasias transcortical, individu mempertahankan kemampuan mereka untuk mengulangi kata-kata dan frasa (Berthier, 1999). Transcortical-motor aphasia sering keliru diidentifikasi sebagai aphasia Broca karena pidato spontan menghentikan dan tenaga, dan pemahaman yang utuh. Tidak seperti kasus di aphasia Broca,tidak terganggu ketika orang itu diperintahkan untuk mengulangi kata atau frasa. Namun, orang sering tidak memerlukan instruksi tersebut. Orang dengan afasi transcortical-motor sering menunjukkan suatu keharusan untuk mengulangi apa orang lain hanya mengatakan, fenomena yang disebut Echolalia. Contoh: Dewasa: "Halo." Anak: "Halo." Dewasa: "Apa yang kamu lakukan?" Anak: "Apa yang kamu lakukan?" Dewasa: "Tidak, Anda pertama kali. Apa yang Anda lakukan?" Anak: "Tidak, Anda pertama kali Apa yang kamu lakukan?." Dewasa: "Hentikan semua mengulang kataku." Anak: "Hentikan semua berulang aku katakan!" Dewasa: "STOP IT!" Anak: "STOP IT!" [Cekikikan] Anak-anak (dan orang dewasa kadang-kadang) mensimulasikan Echolalia sebagai lelucon, tetapi orang-orang dengan afasi transcortical-motor itu sering menunjukkan keinginan mereka. TRANSCORTICAL-Sensory Afasia Mengingat bahwa afasi transcortical-motor serupa dengan aphasia Broca tetapi dengan hemat pengulangan, itu harus datang tidak mengejutkan Anda bahwa afasi transcortical-indra adalah sama dengan aphasia Wernicke dengan pengulangan dipertahankan. Sindrom ini melibatkan pidato fasih tetapi tidak masuk akal sama dengan paraphasias dan neologisme. pemahaman verbal adalah juga sangat dijanjikan. Namun, penamaan objek lisan kadang-kadang dikesampingkan (Berthier, 1995). Meskipun defisit, individu dengan aphasia sensorik transcortical-relatif tak terhalang pada pengulangan. Sama seperti halnya di transcortical-motor aphasia, sindrome ini biasanya meliputi Echolalia. Kondisi ini juga umumnya diamati pada tahap terakhir dari Alzheimer (Appell, Kertész, & Fisman, 1982; Murdoch, Chenery, Wilks, & Boyle, 1987). CAMPURAN TRANSCORTICAL Afasia Campuran transcortkal'aphasia tampaknya akibat dari adanya dua lesi: satu di lobus frontal bahwa banyak bagian Area Broca dan salah satu yang merusak struktur temporal (Grossi, Trojano, Chiacchio, Soricelli, Mansi, Postiglione, et al., 1991) . secara Klinis, kondisi ini jarang gejala-gejala dari kedua afasi transcortical-motor dan afasi transcortical-indra: Hal ini ditandai dengan menghentikan pembicaraan, melelahkan, dan tak berarti; pemahaman pendengaran terganggu, tetapi dipertahankan pengulangan dan Echolalia (Cappa & Vignolo, 1999). GLOBAL Afasia Yang paling parah dari aphasias, aphasia global melibatkan penurunan global dan produksi pemahaman bahasa. Pidato tidak berarti dan nonfluent (terputus-putus, sulit), pemahaman terganggu, dan pengulangan tidak terhindar (seperti aphasia transcortical campuran). Seperti halnya dengan aphasia Broca, hemipare sering menyertai defisit bahasa. Luka yang biasanya menimbulkan kondisi ini sangat luas, termasuk daerah Broca, Wernicke area, dan banyak di struktur vertikal dan subkortikal di antaranya. Lesi luas ini biasanya disebabkan oleh kerusakan pada arteri serebral tengah. Namun, luka yang menimbulkan aphasia global tidak perlu melibatkan Area Wernicke atau daerah Broca. Bahkan benar-benar subcorti lesi dapat menghasilkan gangguan (Vignolo, Boccardi, & Caverni, 1986). Anomik Afasia Anomia adalah penurunan dalam mencari kata (penurunan nilai tersebut tidak terbatas pada penamaan). Anomia terjadi di sejumlah bahasa sindrom (beberapa di antaranya sudah dibahas) dan gangguan neurologis lainnya, seperti penyakit Alzheimer (Chenery, Murdoch, & Ingram, 1996), atau mengikuti trauma kepala (Cappa & Vignolo, 1999). Namun, anomia juga dapat terjadi dalam isolasi dari gangguan lain, disebut sebagai aphasia anomik (atau anomia murni). Karena itu, seorang individu dengan afasi anomik akan menghasilkan yang berarti, berbicara lancar dengan pengulangan kata dipertahankan tapi menemukan gangguan.

tugAS 2

TUGAS 2 SEGMENTAL SUPRAMENTAL Segmental adalah fonem yang bisa dibagi. Contohnya, ketika kita mengucapkan “Bahasa”, maka nomina yang dibunyikan tersebut (baca: fonem), bisa dibagi menjadi tiga suku kata: ba-ha-sa. Atau dibagi menjadi lebih kecil lagi sehingga menjadi: b-a-h-a-s-a. Suprasegmental adalah sesuatu yang menyertai fonem tersebut yang itu bisa berupa tekanan suara (intonation), panjang-pendek (pitch), dan getaran suara yang menunjukkan emosi tertentu. Nah, kesemua yang tercakup ke dalam istilah suprasegmenal itu tidak bisa dipisahkan dari suatu fonem.

tugas 3

TUGAS FONOLOGI III A. Pengertian Langage, Languge, dan Parole 1. Pengertian langage Istilah struktur memang seringkali dikaitkan dengan sistem. Seringkali pula dikatakan bahwa struktur dan sistem seperti dua sisi sebuah mata uang. Maka itu, dalam memahami strukturalisme, sistem/langue dan struktur/parole harus dipahami benar agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan analisis yang menggunakan teori strukturalisme. Dengan memahami struktur dan sistem serta langue dan parole, maka dapat mengkaji dengan lebih baik gejala adopsi unsur budaya. karena pada hakikatnya langue merupakan kontrak kolektif yang sungguh-sungguh harus dipatuhi bila kita ingin berkomunikasi, singkat kata langue adalah bahasa dalam wujudnya sebagai suatu sistem. Disamping sebagai sebuah Trio, langage-langue-parole digunakan Saussure untuk menegaskan objek linguistik. Fenomena bahasa secara umum disebutnya langage, sedangkan langue dan parole merupakan bagian darilangage. Parole adalah manifestasi individu dengan bahasa yang mengindividukan makna; sedangkan langue adalah langage dikurangi parole, yakni bahasa dalam proses sosial. Saussure dalam hal ini lebih menitikberatkan studi linguistik pada langue. (Saussure,1988:75) Pandangan ini juga dikuatkan oleh Robins, dalam konseptualisasi antitesis Saussure; langue “struktur leksikal, gramatikal dan fonologis” bahasa yang tertanam dalam pikiran atau otak penutur bahasa; langue adalah hasil kolektif masyarakat bahasa dan digambarkan sebagai kesatuan di luar individu dan parole “apa yang sebenarnya diucapkan" oleh penutur bahasa. (Robins, 1989: 45). Akan tetapi sedikit berbeda dengan konseptualisasi Saussure, Chomsky membuat distingsi dengan membagi competence dan performance. Meski berbeda istilah namun secara konsep sebenarnya similar. Competence "what a speaker intuitively knows about his language" dan performance "what he does when he actually uses his language (dalam Robins, 1989:45)." Konsep Competence-nya Chomsky tidak jauh berbeda dengan langue-nya Sauusure begitu pula performence tidak lain adalah parole. Langue merupakan bahasa sebagai objek sosial yang murni dan dengan demikian keberadaannya diluar indifidu, sebagai seperangkat konvensi-konvensi sistemik yang berperan penting dalam komunikasi. Langue merupakan sistem sosial yang otonom, yang tidak bergantung kepada materi-tanda-tanda pembentuknya. Sebagai sebuah institusi sosial, langue bukan sama sekali sebuah tindakan dan tidak bisa pula dirancang atau diciptakan institusi sosial, langue juga sekaligus merupakan sistem nilai. Bila sebagai suatu sistem sosial, langue pada dasarnya merupakan kontrak kolektif yang harus diterima secara menyeluruh bila kita hendak berkomunikasi. Karena demikian, langue tersusun atas sejumlah elemen yang sekaligus ekuivalen dari kuantitas benda-benda dan terma-terma yang berfungsi lebih luas didalam sebuah tatanan referenssial. Dipandang dari sisi ini, sebuah tanda dapat diumpamakan seperti keping uang logam (koin) yang bernilai sejumlah barang tertentu-sehingga dengan demikian dapat dibelanjakan- tetapi juga memiliki nilai dalam kaitannya dengan koin-koin yang lain. Berkebalikan dengan langue, pareole merupakan bagian dari bahasa yang sepenuhnya individual. Parole dapat dipandang, pertama-tama, sebagai kombinasi yang memungkinkan subjek (penutur) sanggup menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya. Disamping itu, ia juga dapat dipandang sebagai mekanisme psiko-fisik yang memungkinkan subjek menampilkan kombinasi tadi. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. Karena merupakan aktivitas kombinatif maka parole terkait dengan penggunaan indifidu dan bukan semata-mata bentuk kreasi. Singkatnya, parole merupakan penggunaan aktual bahasa sebagai tindakan individu-individu. Langue adalah cabang linguistik yang menaruh perhatian pada tanda-tanda (sign) bahasa atau ada pula yang menyebutnya sebagai kode-kode (code) bahasa. Termasuk dalam tanda bahasa atau kode ini adalah apa yang oleh para ahli disebut fonem, yaitu satuan bunyi terkecil yang berfungsi untuk membedakan arti. Misalnya dalam bahasa Arab dikenal kata “ ولد “ yang artinya berbeda dengan kata “ بلد “, karena yang diletakkan di awal kata adalah fonem / وَ / dan bukan fonem / بَ /. Selain itu, termasuk dalam tanda bahasa juga apa yang disebut dengan morfem, yaitu satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil. Begitulah, kalau langue mempunyai objek studi sistem atau tanda atau kode, maka parole adalah living speech, yaitu bahasa yang hidup atau bahasa sebagaimana terlihat dalam penggunaannya. Kalau langue bersifat kolektif dan pemakaiannya “tidak disadari” oleh pengguna bahasa yang bersangkutan, makaparole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. Kalau unit dasar langue adalah kata, maka unit dasar parole adalah kalimat. Kalau langue bersifat sinkronik dalam arti tanda atau kode itu dianggap baku sehingga mudah disusun sebagai suatu sistem, maka parole boleh dianggap bersifat diakronik dalam arti sangat terikat oleh dimensi waktu saat terjadi pembicaraan. Keterikatan dengan dimensi waktu berhubungan pula dengan persoalan arti. Misalnya dalam pembicaraan sehari-hari, meskipun kalimat disusun berdasarkan gramatika, tetapi arti kalimat itu sendiri timbul karena pendengar juga melihat mimik pembicara yang tidak dapat dilepaskan dari kebudayaannya. Umpamanya, seperti contoh berikut. Dua orang ibu Jawa berjalan bersama, sepulang arisan. Seorang ibu yang kebetulan letak rumahnya lebih dekat dan tiba lebih dahulu, berkata “mari mampir”. Dalam kondisi seperti ini, ibu kedua menjawab, “terima kasih, lain kali”. Apa yang hendak diperlihatkan di sini adalah “mari mampir” sebenarnya tidak menyilakan singgah seperti yang diperlihatkan oleh sistem gramatikanya, tetapi sesuai dengan pengguna bahasa tersebut, kalimat itu hanya berarti basa-basi pergaulan saja. Makna kalimat menurut pengertian seperti yang dicontohkan terakhir inilah yang menjadi perhatian dari parole. Berkenaan dengan istilah langue dan parole ini, dapat dijelaskan secara lebih sederhana, langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya, sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu”. Menurut Saussure, langue bukanlah kegiatan penutur, langue merupakan produk yang direkam individu secara pasif. Sebaliknya, parole adalah suatu tindakan individual dari kemauan dan kecerdasannya. Langue adalah suatu benda tertentu di dalam kumpulan heteroklit peristiwa-peristiwa langage. Dia adalah bagian sosial dari langage, berada di luar individu, yang secara mandiri tidak mungkin menciptakan maupun mengubahnya. Langue hanya hadir sebagai hasil semacam kontrak di masa lalu di antara para anggota masyarakat. Pembagian tersebut kemudian dengan sendirinya memunculkan sestem pertalian yang tidak dapat terlepas lagi antara individu sebagai pihak pengujar dan bahasa sebagai tempat bersemayamnya jutaan tanda yang siap diambil oleh individu dalam berkomunikasi, sehingga kemudian Saussure menyebutnya dengan sistemarbitrary bahasa (kesewenang-wenangan bahasa), yakni keadaan dimana bahasa menjadi hakim bagi tiap-tiap individu yang akan mewajibkan kepada siapa saja yang akan berkomunikasi untuk memilih salah satu diantaranya sebagai tanda yang mewakili pikirannya, dan tidak ada pilihan lain selain tanda-tanda tersebut. Kenapa demikian? Karena bahasa tersusun secara mandiri oleh kesepakatan umum, dan tidak akan menjadi bahasa, segala sesuatu yang belum pernah tersepakati. Tidak mungkin seseorang yang akan menyebut sesuatu yang manis, bulat, berwarna merah, serta enak rasanya, yang oleh khalayak biasa disebutapel dengan sebutan ipul. Begitu juga sebaliknya, tiap-tiap individu berkesempatan bebas untuk memakai tanda-tanda yang sudah tersepakati tersebut untuk menjadi sebuah bentuk ujaran yang akan menandai tiap-tiap impresi mentalnya ketika sedang berkomunikasi. Andaikan saja bahawa bahasa itu sebagai sebuah kamus raksasa dalam otak tiap-tiap individu yang didalamnya terdapat jutaan kata-kata, siapapun bebas memilih kata apa saja, yang penting masih dalam kamus raksasa tersebut.○ Sesuatu yang menarik adalah dapat dipahaminya tiap-tiap tanda yang ada dalam sistem kebahasaan tersebut, siapapun orangnya akan memahami tanda-tanda yang telah tersepakati tersebut, namun apa sebenarnya yang menjadikan tanda tersebut dapat terpahami? Saussur mendapati bahwa tanda-tanda tersebut dapat dipahami karena keberbedaan tiap-tiap tanda tersebut, seandainya tanda-tanda tersebut tidak berbeda makan akan individu akan susah memahaminya. Hal ini yang kemudian oleh Saussur disebut dengan hukum keberbedaan tanda, dimana sistem operasi bahasa tersusun secara sistematis dan tidak centang perenang karena keberbedaan tiap-tiap tanda yang tersususun di dalamnya.

tugas 1

TUGAS 1 Pengertian, Fungsi dan Arti BAHASA Menurut Para Ahli PENGERTIAN BAHASA :: Apa arti bahasa menurut ahli? Pengertian Bahasa Indonesia – Bahasa adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia di atas dunia ini, karena dengan bahasa orang bisa berinteraksi dengan sesamanya dan bahasa merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Adapun bahasa dapat digunakan apabila saling memahami atau saling mengerti erat hubungannya dengan penggunaan sumber daya bahasa yang kita miliki. Kita dapat memahami maksud dan tujuan orang lain berbahasa atau berbicara apabila kita mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan. Dibawah ini ada beberapa pengertian bahasa menurut ahli : Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli 1. Pengertian Bahasa menurut (Depdiknas, 2005: 3)Bahasa pada hakikatnya adalah ucapan pikiran dan perasan manusia secara teratur, yang mempergunakan bunyi sebagai alatnya. 2. Pengertian Bahasa menurut Harun Rasyid, Mansyur & Suratno (2009: 126) bahasa merupakan struktur dan makna yang bebas dari penggunanya, sebagai tanda yang menyimpulkan suatu tujuan. 3. Sedangkan bahasa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Hasan Alwi, 2002: 88) bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh semua orang atau anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri dalam bentuk percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun yang baik. Kesimpulan Pengertian Bahasa menurut ahli Berdasarkan beberapa pengertian bahasa tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian bahasa adalah sistem yang teratur berupa lambang-lambang bunyi yang digunakan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran bahasa tersebut. Nah dalam arti dari pengertian bahasa tersebut, hal ini menonjolkan beberapa segi sebagai berikut: 1. Bahasa adalah sistem. Maksudnya bahasa itu tunduk kepada kaidah-kaidah tertentu baik fonetik, fonemik, dan gramatik. Dengan kata lain bahasa itu tidak bebas tetapi terikat kepada kaidah-kaidah tertentu. 2. Sistem bahasa itu sukarela (arbitary). Sistem berlaku secara umum, dan bahasa merupakan peraturan yang mendasar. Sebagai contoh: ada beberapa bahasa yang memulai kalimat dengan kata benda seperti Bahasa Inggris, dan ada bahasa yang mengawali kalimatnya dengan kata kerja. Dan seseorang tidak dapat menolak aturan-aturan tersebut baik yang pertama maupun yang kedua. Jadi tidak tunduk kepada satu dialek tertentu. 3. Bahasa itu pada dasarnya adalah bunyi, dan manusia sudah menggunakan bahasa lisan sebelum bahasa lisan seperti halnya anak belajar berbicara sebelum belajar menulis. Di dunia banyak orang yang bisa berbahasa lisan, tetapi tidak dapat menuliskannya. Jadi bahasa itu pada dasarnya adalah bahasa lisan (berbicara), adapun menulis adalah bentuk bahasa kedua. Dengan kata lain bahasa itu adalah ucapan dan tulisan itu merupakan lambang bahasa. 4. Bahasa itu simbol. Bahasa itu merupakan simbol-simbol tertentu. Misalnya kata ”rumah” menggambarkan hakikat sebuah rumah. Jadi bahasa itu adalah lambang-lambang tertentu. Pendengar atau pembaca meletakkan simbol-simbol atau lambang-lambang tersebut secara proporsional. 5. Fungsi bahasa adalah mengekspresikan pikiran dan perasaan. Jadi tidak hanya mengekspresikan pikiran saja. Peranan bahasa terlihat jelas dalam mengekpresikan estetika, rasa sedih senang dalam interaksi sosial. Dalam hal ini mereka mengekspresikan perasaan dan bukan pikiran. Karena itu bahasa itu mempunyai peranan sosial, emosional disamping berperan untuk mengemukakan ide. Demikianlah kajian teoritis tentang pengertian bahasa menurut ahli, semoga artikel tersebut dapat menambah pengetahuan kita dan sebagai bahan rujukan untuk membuat makalah tentang pengertian bahasa. B) Fungsi Bahasa 1. Bahasa sebagai sarana komunikasi Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat. Fungsi tersebut digunakan dalam berbagai lingkungan, tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam, misalnya : komunikasi ilmiah, komunikasi bisnis, komunikasi kerja, dan komunikasi sosial, dan komunikasi budaya. 2. Bahasa sebagai sarana integrasi dan adaptasi Dengan bahasa orang dapat menyatakan hidup bersama dalam suatu ikatan. Misalnya : integritas kerja dalam sebuah institusi, integritas karyawan dalam sebuah departemen, integritas keluarga, integritas kerja sama dalam bidang bisnis, integritas berbangsa dan bernegara. 3. Bahasa sebagai sarana kontrol sosial Bahasa sebagai kontrol sosial berfungsi untuk mengendalikan komunikasi agar orang yang terlibat dalam komunikasi dapat saling memahami. Masing – masing mengamati ucapan, perilaku, dan simbol – simbol lain yang menunjukan arah komunikasi. Bahasa kontrol ini dapat diwujudkan dalam bentuk : aturan, anggaran dasar, undang – undang dan lain – lain. 4. Bahasa sebagai sarana memahami diri Dalam membangun karakter seseorang harus dapat memahami dan mengidentifikasi kondisi dirinya terlebih dahulu. Ia harus dapat menyebutkan potensi dirinya, kelemahan dirinya, kekuatan dirinya, bakat, kecerdasan, kemampuan intelektualnya, kemauannya, tempramennya, dan sebagainya. Pemahaman ini mencakup kemampuan fisik, emosi, inteligensi, kecerdasan, psikis, karakternya, psikososial, dan lain – lain. Dari pemahaman yang cermat atas dirinya, seseorang akan mampu membangun karakternya dan mengorbitkan-nya ke arah pengembangan potensi dan kemampuannya menciptakan suatu kreativitas baru. 5. Bahasa sebagai sarana ekspresi diri Bahasa sebagai ekspresi diri dapat dilakukan dari tingkat yang paling sederhana sampai yang paling kompleks atau tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Ekspresi sederhana, misalnya, untuk menyatakan cinta (saya akan senatiasa setia, bangga dan prihatin kepadamu), lapar (sudah saatnya kita makan siang). 6. Bahasa sebagai sarana memahami orang lain Untuk menjamin efektifitas komunikasi, seseorang perlu memahami orang lain, seperti dalam memahami dirinya. Dengan pemahaman terhadap seseorang, pemakaian bahasa dapat mengenali berbagai hal mencakup kondisi pribadinya: potensi biologis, intelektual, emosional, kecerdasan, karakter, paradigma, yang melandasi pemikirannya, tipologi dasar tempramennya (sanguines, melankolis, kholeris, flagmatis), bakatnya, kemampuan kreativitasnya, kemempuan inovasinya, motifasi pengembangan dirinya, dan lain – lain. 7. Bahasa sebagai sarana mengamati lingkungan sekitar Bahasa sebagai alat untuk mengamati masalah tersebut harus diupayakan kepastian konsep, kepastian makna, dan kepastian proses berfikir sehingga dapat mengekspresikan hasil pengamatan tersebut secara pasti. Misalnya apa yang melatar belakangi pengamatan, bagaimana pemecahan masalahnya, mengidentifikasi objek yang diamati, menjelaskan bagaimana cara (metode) mengamati, apa tujuan mengamati, bagaimana hasil pengamatan,. dan apa kesimpulan. 8. Bahasa sebagai sarana berfikir logis Kemampuan berfikir logis memungkinkan seseorang dapat berfikir logis induktif, deduktif, sebab – akibat, atau kronologis sehingga dapat menyusun konsep atau pemikiran secara jelas, utuh dan konseptual. Melalui proses berfikir logis, seseorang dapat menentukan tindakan tepat yang harus dilakukan. Proses berfikir logis merupakn hal yang abstrak. Untuk itu, diperlukan bahasa yang efektif, sistematis, dengan ketepatan makna sehingga mampu melambangkan konsep yang abstrak tersebut menjadi konkret. 9. Bahasa membangun kecerdasan Kecerdasan berbahasa terkait dengan kemampuan menggunakan sistem dan fungsi bahasa dalam mengolah kata, kalimat, paragraf, wacana argumentasi, narasi, persuasi, deskripsi, analisis atau pemaparan, dan kemampuan mengunakan ragam bahasa secara tepat sehingga menghasilkan kreativitas yang baru dalam berbagai bentuk dan fungsi kebahasaan. 10. Bahasa mengembangkan kecerdasan ganda Selain kecerdasan berbahasa, seseorang dimungkinkan memiliki beberapa kecerdasan sekaligus. Kecerdasan – kecerdasan tersebut dapat berkembang secara bersamaan. Selain memiliki kecerdasan berbahasa, orang yang tekun dan mendalami bidang studinya secara serius dimungkinkan memiliki kecerdasan yang produktif. Misalnya, seorang ahli program yang mendalami bahasa, ia dapat membuat kamus elektronik, atau membuat mesin penerjemah yang lebih akurat dibandingkan yang sudah ada. 11. Bahasa membangun karakter Kecerdasan berbahasa memungkinkan seseorang dapat mengembangkan karakternya lebih baik. Dengan kecerdasan bahasanya, seseorang dapat mengidentifikasi kemampuan diri dan potensi diri. Dalam bentuk sederhana misalnya : rasa lapar, rasa cinta. Pada tingkat yang lebih kompleks , misalnya : membuat proposal yang menyatakan dirinya akan menbuat suatu proyek, kemampuan untuk menulis suatu laporan. 12. Bahasa Mengembangkan profesi Proses pengembangan profesi diawali dengan pembelajaran dilanjutkan dengan pengembangan diri (kecerdasan) yang tidak diperoleh selama proses pembelajaran, tetapi bertumpu pada pengalaman barunya. Proses berlanjut menuju pendakian puncak karier / profesi. Puncak pendakian karier tidak akan tercapai tanpa komunikasi atau interaksi dengan mitra, pesaing dan sumber pegangan ilmunya. Untuk itu semua kaum profesional memerlukan ketajaman, kecermatan, dan keefektifan dalam berbahasa sehingga mempu menciptakan kreatifitas baru dalam profesinya. 13. Bahasa sarana menciptakan kreatifitas baru Bahasa sebagai sarana berekspresi dan komunikasi berkembang menjadi suatu pemikiran yang logis dimungkinkan untuk mengembangkan segala potensinya. Perkembangan itu sejalan dengan potensi akademik yang dikembangkannya. Melalui pendidikan yang kemudian berkembang menjadi suatu bakat intelektual. Bakat alam dan bakat intelektual ini dapat berkembang spontan menghasilkan suatu kretifitas yang baru. Kemudian saya akan menjelaskan tentang peranan bahasa sebagai alat komunikasi . Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4). Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita. Kehidupan bermasyarakat dan berbahasa Indonesia. Saya sarankan untuk berbahasa yang baik ditengah masyarakat , karena penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar dapat memenuhi aspek fungsi yang telah saya jabarkan diatas. Untuk beberapa unsur , yaitu unsur umur, pendidikan, agama, status sosial, lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan, untuk menghindari perpecahan dalam penggunaan bahasa yang tidak tepat . Dapat dikatakan bahwa berbicara kepada anak kecil dengan kepada orang dewasa tentulah berbeda, dan penggunaan bahasa dalam lingkungan tidak bisa disamakan secara merata, seperti penggunaan bahasa di lingkungan dengan berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah pendidikan tentu tidak dapat disamakan . Dan tak luput juga yaitu masalah tata bahasa, pilihan kata, tanda baca, dan ejaan. Biasanya terdapat dalam penulisan ilmiah sangat perlu perhatian . Pendapat pribadi tentang penerapan bahasa yang baik dan benar dalam perkuliahan system informasi adalah bahwa sebuah system atau sebuah informasi merupakan sebuah kumpulan kaliman yang distukan menjadi sebuah data yang penting dan benar maupun akurat yang dapat memberikan suatu efek kepada penerimanya. Penerima disini ialah manusia sebagi media yang membutuhkan informasi, oleh karena demikian dalam penulisannya informasi harus menganut system EYD atau Ejaan yang disempurnakan agar mudah di pahami oleh penerima informasi juga agar mudah untuk di dengar maupun di sebarluaskan. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia merupakan bahasa Resmi Indonesia yang memiliki kedudukan dan fungsi yang penting dalam kehidupan berbangsa, berikut adalah Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam Negara ini menurut Depdiknas dalam Pelatihan Nasional Dosen Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi adalah sebagai berikut : a. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Bahasa nasional berfungsi sebagai lambang kebanggaan nasional , lambing identitas nasional, alat pemersatu berbagai suku bangsa, dan alat perhubungan antar daerah dan antar budaya. Hal ini sangat penting karena Indonesia sendiri terdiri atas banyak budaya dan dipisahkan pula oleh kondisi geogrtafis yang terdiri atas banyak pulau. b. Bahasa Indonesia sebagai Lambang Kebanggaan Nasional Tidak semua Negara memiliki bahasa nasional yang digunakan secara luas dan dijunjung tinggi. Sebuah bahasa yang dapat menyatukan berbagai suku yang berbeda merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia sanggup mengatasi perbedaan yang ada. c. Bahasa Indonesia sebagai Lambang Identitas Nasional Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan budaya dan bahasa yang berbeda. Untuk membangun kepercayaan diri yang kuat, sebuah bangsa memerlukan identitas. Identitas tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui bahasa.Dengan adanya sebuah bahasa yang mengatasi berbagai bahasa yang berbeda, suku-suku bangsa yang berbeda tersebut dapat mengidentikan diri dalam satu bangsa melalui bahasa. d. Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu Berbagai Suku Bangsa Bangsa yang terdiri atas berbagai suku yang budaya dan bahasanya berbeda akan mengalami masalah besar dalam melangsungkan kehidupannya. Dengan adanya bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa nasional oleh semua suku bangsa yang ada, rasa persatuan pun akan muncul e. Bahasa Indonesia sebagai Alat Perhubungan Antardaerah dan Antarbudaya Komunikasi merupakan masalah besar yang dihadapi bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan budaya dan bahasa yang berbeda. Diperlukan sebuah bahasa yang dapat dipakai agar dapat berhubungan. f. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara Sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, serta alat perhubungan di tingkat nasional untuk kepentingan pembangunan dan pemerintahan, alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. g. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kenegaraan Sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia dipakai untuk urusan-urusan kenegaraan seperti pidato resmi, dokumen, dan surat-surat resmi. Upacara kenegaraan juga dilangsungkan denga bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa Indonesia dalam acara kenegaraan sesuai dengan UUD 1945 h. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pengantar dalam Dunia Pendidikan Pemakaian lebih dari satu bahasa akan menimbulkan ketidakefektifan, oleh sebab itu diperlukan satu bahasa yang dapat menjadi acuan utama dalam pelaksanaan pendidikan. i. Bahasa Indonesia sebagai Alat Perhubungan di Tingkat Nasional untuk Kepentingan Pembangunan dan Pemeritahan Bahasa dapat menjadi penghubung sehingga komunikasi dalam pembangunan serta pemerintahan tidak terhambat. Bahasa yang sama juga akan menambah keefektifan dalam komunikasi j. Bahasa Indonesia sebagai Alat Pembangunan Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Untuk mengembangkan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi diperlukan bahasa yang bisa dipakai untuk keperluan tersebut dan dimengerti oleh masyarakat luas.

tugas 11

Bunyi Pengiring Tugas 11 BUNYI PENGIRING Bunyi pengiring adalah bunyi yang ikut serta muncul ketika bunyi utama dihasilkan.Hal ini disebabkan oleh ikut sertanya alat-alat ucap lain ketika alat ucap pembentuk bunyi utama difungsikan.Oleh karena itu,ada yang mengistilahkan koartikulasi atau artikulasi sertaan,yaitu pengucapan dua bunyi yang berurutan secara tumpang-tindih yang kualitasnya berbeda dari deretan bunyi yang diucapkan secara normal atau sempurna. Bunyi-bunyi sertaan atau pengiring ini dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1.Bunyi ejektif,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara glotis ditutup sebelum dan sewaktu bunyi utama diucapkan,sehingga ketika glotis dibuka terdengar bunyi global[V]. 2.Bunyi klik,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara lidah belakng menempel rapat pada velum sebelum dan sewaktu bunyi utama diucapkan,sehingga ketika penempelan pada velum dilepas terdengar bunyi [Kk] 3.Bunyi aspriasi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara arus udara yang keluar lewat mulut terlalu keras sehingga terdengar bunyi[Kh]. Contoh: bunyi [p] pada awal kata bahasa inggris trdengar sebagai bunyi [ph], sehingga ucapnnya menjadi [pheis]. 4.Bunyi eksplosif(bunyi lepas),yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara arus udara dilepaskan kembali setelah dihambat total.lawannya adalah bunyi implosif(bunyi tak lepas) 5.Bunyi retrofleksi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara ujung lidah ditarik ke belakang[Kr]. Contoh: bunyi [k] pada kata terdengar sebagai bunyi [kr], sehingga ucapannya menjadi [kretas]. Jadi, bunyi [k] telah diretrofleksi. 6.Bunyi labialisasi,yaitu bunyi sertaan yang di hasilkan dengan cara kedua bibir dibulatkan dan disempitkan segera/ketika bunyi utama diucapkan. Contoh: bunyi [t] pada kata terdengar sebagai bunyi [tw] sehingga lafalnya [twjuan]. Jadi, bunyi [t] dikatakan dilabialisasi. 7. Bunyi palatalisasi,yaitu sertaan yang dihasilkan dengan cara lidah tengah dinaikkan mendekati langit-langit keras(palatum) segera/ketika diucapkan sehingga terdengar bunyi[Ky]. Contoh: bunyi [p] pada kata terdengar sebagai bunyi [py] sehingga ucapannya menjadi [pyara]. Jadi, bunyi [p] telah diplatisasi. 8.Bunyi glotalisasi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara glotis ditutup sesudah bunyi utama diucapkan sehingga terdengar bunyi[?]. Contoh: bunyi [a] pada kata terdengar sebagai bunyi [a?], sehingga ucapannya menjadi [a?kan]. 9.Bunyi nasalisasi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara memberikan kesempatan arus udara melalui rongga hidung sebelum atau sesaat artikulasi bunyi utama, sehingga terdengar bunyi sertaan [m]. Contoh: Hal ini biasa terjadi pada konsonan hambat bersuara, yaitu [b], [d], dan [g], sehingga menjadi [mb] [nd] [kg]. Daftar Pustaka : Mansur Muslich. Mei 2008. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Bumi Aksara.