Jumat, 13 Juni 2014
tugas 7
Contoh Kasus Kelumpuhan Saraf Otak
Tugas 7
Patomekanisme
Gangguan faal pada saraf tepi dapat berasal dari gangguan biokemistri seperti terganggunya keseimbangan air dan elektrolit, inflamasi (radang), proses keganasan, trauma dan lain sebagainya.
Untuk mempercepat hantaran impuls yang berupa muatan listrik dari proksimal ke distal serabut saraf (akson) mempunyai selubung yang disebut mielin. Mielin diproduksi oleh sel Schwann yang membalut akson dan pada titik tertentu mempunyai takik yang disebut nodus Ranvier. Adanya nodus Ranvier memungkinkan hantaran listrik meloncat sehingga lebih cepat sampai ke efektor (serabut saraf eferen), atau sebaliknya dari reseptor lebih cepat sampai ke sentral (serabut saraf aferen). Tidak semua serabut saraf bermielin, ada juga serabut saraf yang kecil dan pendek tidak bermielin dan saling menghubungkan sesama sel saraf di otak. Pada penyakit saraf tepi kerusakan dapat terjadi pada akson, disebut aksonopati, atau pada mielin (mielinolisis) dan kombinasi keduanya dapat saja terjadi. Pada gangguan di akson, proses kesembuhan berlangsung lama, tidak demikian halnya bila pada mielin lebih besar kemungkinan cepat kembali seperti semula.
POLIOMIELITIS ANTERIOR AKUTA
Salah satu diantara penyakit saraf tepi yang populer adalah polio yang nama selengkapnya adalah poliomielitis anterior akuta. Sesuai namanya bagian yang terkena sebenarnya adalah mielum bagian anterior yang disebut juga kornu anterior sehingga lesi yang ditimbulkan berupa kelumpuhan tipe perifer karena inti sel saraf di kornu anterior mengalami nekrosis. Akibatnya adalah serabut saraf yang terkena terutama aksonnya tidak berfungsi lagi dan otot yang dipersarafi lama kelamaan (dan proses berlangsung cepat) menjadi atrofi. Otot yang atrofi menjadi kecil dan ekstremitas memerlukan bantuan alat untuk dapat berfungsi kembali.
Tidak ada terapi khusus pada polio sehingga terapi pada penyakit ini lebih bersifat suportif.
Hindari menggunakan terapi suntik pada penderita yang panas saat epidemi polio sedang berjangkit (outbreak) karena akan memicu lebih banyak sel saraf yang mati. Kehati-hatian ini juga menjadi penting karena makin banyaknya kegiatan sueing di tengah masyarakat. Pencegahan penyakit ini adalah dengan melaksanakan vaksinasi polio di masyarakat.
Epidemiologi
Insidens 1 atau 2 orang per 100,000 penduduk.[6] Seringkali parah dan menunjukkan kelumpuhan memanjat mula-mula kaki dan tungkai kemudian lengan dan tangan juga terkena tidak terkecuali otot pernafasan dan wajah. Karena merupakan lesi saraf tepi makan refleks tendon akan menghilang. Dengan pengobatan yang segera dengan penggantian plasma maka diharapkan kesembuhan segera terjadi. Pemberian imunoglobulin menolong. Dan jangan dilupakan pengobatan penunjang seperti pemberian neurotropik vitamin. Sebagian besar pasen dapat pulih normal kembali. GBS juga menjadi penyebab kelumpuhan yang tidak disebabkan oleh cedera di dunia.
Daftar Pustaka :
http://nurlaily.wordpress.com/2009/12/25/penyakit-saraf-tepi-otot-by-achdiat-agoes-3/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar